Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal memperkirakan imbas robotisasi dalam sektor industri berpotensi menggeser 30 persen tenaga kerja manusia.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 09 Oktober 2019 - 11:33 WIB
WowKeren - Teknologi yang semakin maju memberikan dampak di banyak sektor kehidupan, tak terkecuali perindustrian. Robotisasi dalam sektor industri akan sedikit banyak berpengaruh pada jumlah tenaga kerja.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengakui hal itu. Ia tidak menampik fakta jika tenaga robot untuk proses produksi sudah dipakai di banyak industri. Tak pelak, ancaman PHK terhadap para pekerja menjadi suatu hal yang niscaya. "Ancaman PHK pasti, dalam 3-5 tahun ke depan akan terjadi PHK 30 persen dari total karyawan yang ada," kata Iqbal dilansir dari CNBC Indonesia, Rabu (9/10).
Jika saat ini perjuangan para buruh adalah masalah kesejahteraan dan upah pekerja, maka dalam beberapa tahun ke depan ada hal lain yang tak kalah penting untuk mereka perjuangkan, yakni robotisasi. "Isu dampak PHK dalam future work adalah isu gerakan buruh di seluruh dunia termasuk di KSPI. Future work dalam bentuk digital ekonomi dan robotisasi," lanjutnya.
Namun meski demikian, Iqbal tak sependapat jika alasan pengusaha di Indonesia memilih untuk mengganti tenaga kerja manusia dengan robot adalah karena masalah upah. Ia menegaskan bahwa robotisasi industri sudah berlangsung sejak 30 tahun yang lalu.
Ia mencontohkan beberapa negara maju yang sudah terlebih dahulu menerapkan teknologi ini seperti Jerman, Jepang, dan Amerika. Negara-negara tersebut menerapkan robotisasi dalam industri dengan tujuan melakukan efisiensi kerja dan antisipasi global supply chain, sama sekali tidak terkait upah.
"Robotisasi sudah berkembang dari 30 tahun yang lalu di negara industri maju seperti Amerika, Jepang, Jerman dalam rangka efisiensi kerja dan antisipasi global supply chain serta kemajuan teknologi terutama teknologi ICT," jelas Iqbal. "Jadi bukan karena persoalan upah atau kesejahteraan buruh."
Sementara itu, pengusaha menilai bahwa penggunaan robot dalam proses produksi bisa menghemat waktu. "Saat ini belum berdampak (pada efisiensi tenaga kerja), karena masih lebih pada peningkatan kapasitas," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri Anom masih dilansir dari CNBC Indonesia.
(wk/zodi)