Pemerintah Indonesia telah melakukan evakuasi WNI yang berada di Wuhan, Tiongkok dengan menggunakan Batik Air. Hal ini lantas mengundang pertanyaan kenapa harus menggunakan pesawat yang merupakan anak Lion Air tersebut untuk evakuasi?
- Nidya Putri
- Sabtu, 01 Februari 2020 - 17:41 WIB
WowKeren -
Pemerintah Indonesia melakukan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang masih terjebak di Wuhan, Hubei, Tiongkok. Evakuasi para WNI ini sendiri bakal dilakukan dengan menggunakan maskapai Batik Air.
Hal ini dikonfirmasi oleh Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait. "Benar, Batik pesawat A-330," ujarnya.
Tentunya keputusan pemerintah yang menggunakan peswat milik Lion Air Group ini menjadi pertanyaan. Pasalnya, pemerintah dapat menggunakan pesawat lain seperti Garuda Indonesia yang merupakan national flag carrier (maskapai nasional) atau pesawat milik TNI AU.
Menjawab kebingungan tersebut, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pun menjelaskan jika pemerintah memutuskan menggunakan Batik Air atas saran pemerintah Tiongkok. Hal ini dikarenakan selama ini hanya Lion Air yang memiliki rute penerbangan Jakarta-Wuhan.
"Untuk mempercepat proses clearance, otoritas Republik Rakyat Tiongkok sarankan memakai (resumption) slot yang secara reguler sudah melayani jalur tersebut," jelas Retno, Sabtu (1/2). "Oleh karena itu, kita gunakan slot Lion dengan memakai Batik Air (satu grup). Pesawat badan lebar yang kita pakai muat sekitar 300 orang dan tidak perlu transit."
Lebih lanjut, dalam situasi darurat seperti ini Kemenlu ingin mengutamakan kecepatan agar bisa segera mungkin mengevakuasi WNI.
Hal senada juga diucapkan oleh Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi. Ia mengatakan bahwa Lion Air Group ditunjuk pemerintah karena otoritas China telah mensyaratkan pelaksanaan evakuasi WNI haruslah operator yang memiliki izin penerbangan dari dan ke Wuhan.
"Yang memiliki izin rute tersebut adalah Lion Air dan Sriwijaya Air," ujar Budi. "Dan yang memiliki pesawat wide body (bodi lebar) adalah Lion Air melalui pesawat Batik Air."
Budi juga memastikan jika pihaknya bersama Kemlu, Kemenkes, dan pihak lainnya terus mengawal seluruh WNI hingga tiba di Indonesia, termasuk sampai tahap observasi. "Lead sector misi (kemanusiaan) adalah Kemenlu dan Kemenkes, Kemenhub men-support. Penerbangan akan kami kawal sesuai peraturan ICAO dan perundangan berkaitan dengan safety dan security," tutupnya.
(wk/nidy)