Jokowi Minta Produksi Drone RI Dipercepat, Anggaran Naik Jadi Rp 1,1 Triliun
Nasional

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan pada awal mula produksinya, drone ini akan dibuat sebanyak 5 unit sebelum akhirnya diproduksi secara massal.

WowKeren - Presiden Joko Widodo alias Jokowi meminta agar produksi massal pesawat tanpa awak atau drone dipercepat. Pemerintah memang tengah mengupayakan produksi drone ini dan ditargetkan akan produksi pada 2024 mendatang.

Namun kekinian, sang kepala negara meminta agar produksi bisa dipercepat 2 tahun sehingga di 2022 Indonesia sudah bisa menghasilkan drone sendiri. Hal ini berimbas pada kebutuhan dana yang juga kan mengalami kenaikan.

Drone itu nantinya akan diberi nama Elang Hitam. Pada awal mula produksinya, drone ini akan dibuat sebanyak 5 unit sebelum akhirnya diproduksi secara massal. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro.

"Kita bikin prototipe dulu sampai 5. Mulai 2022 setelah kita punya 5 prototipe baru kita produksi dalam jumlah besar," kata Bambang di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/2). "Kan harus prototipe dulu untuk memastikan ini sesuai kebutuhan."


Adapun alasan pemerintah memproduksi prototipe itu untuk memastikan bahwa yang diproduksi sudah sesuai dengan kebutuhan, sebelum diproduksi secara massal. Adapun drone ini pada dasarnya dirancang untuk keperluan militer yang didesain oleh BPPT, Lapan dan Balitbang Kemenhan. Sementara untuk produksinya akan digarap oleh 2 BUMN, yakni PT Di untuk manufakturnya, dan LEN untuk keperluan senjata, sistem sensor maupun radar.

Sehingga drone ini akan menjadi satu dari serangkaian alutsista Indonesia. Sebab selama ini Indonesia cenderung bergantung pada luar untuk memenuhi keperluan persenjataan dalam negeri. Yang mana hal ini kurang baik untuk pertahanan RI.

"Intinya boleh dibilang sama dengan drone yang sekarang dimiliki TNI dari luar, tapi dengan harga dan teknologi dalam negeri," kata Bambang. "Karena kalau senjata kalau teknologinya tergantung luar negeri, istilahnya kita mau ngapain saja lawan sudah tahu."

Hal ini pun membuat anggaran juga harus ditambah. "Tadinya butuh 5 tahun dimajukan jadi 3 tahun. Kalau baseline-nya untuk sampai prototipe itu Rp 800 miliar. Tapi karena dipercepat bisa naik sampai Rp 1,1 triliun," tutur Bambang.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait