Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 23 April 2020 - 10:31 WIB
WowKeren - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa virus corona (COVID-19) akan bertahan lama dan tak bisa berakhir dalam waktu dekat. Hal ini lantaran adanya tren kenaikan infeksi yang mengkhawatirkan di beberapa negara di dunia, bahkan ada yang baru memasuki fase awal pandemi.
Dalam pernyataannya seperti dikutip dari The Jakarta Post pada Kamis (23/4), sebagian besar negara di dunia masih berada dalam tahap awal pandemi, sementara beberapa negara lainnya mulai bangkit dari wabah ini. Hal tersebut lah yang membuat Tedros menyebut virus corona masih akan bertahan lama.
"Sebagian besar negara masih dalam tahap awal dan beberapa yang terdampak awal pandemi mulai melihat kebangkitan dalam kasus-kasus," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pernyataan resminya pada Rabu (22/4) waktu setempat.
Tedros juga mengakui bahwa tindakan pembatasan sosial dan karantina wilayah atau lockdown telah membantu menekan penularan virus di banyak negara. Kendati demikian, Dirjen WHO itu menilai penanganan pandemi COVID-19 masih harus menempuh jalan panjang.
Ia lantas memperingatkan negara-negara yang mulai mencabut lockdown dan membuka kembali perekonomian. Menurutnya, pemerintah tak boleh gegabah lantaran virus ini terus bermutasi. "Jangan salah. Kita masih harus menempuh jalan panjang. Virus ini akan bersama kita untuk waktu yang lama," ujarnya.
Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menganjurkan agar negara-negara di seluruh dunia terus berinvestasi dalam meningkatkan sistem antisipasi serta penanganan masing-masing. Sebab WHO menilai sejauh ini hanya 76 persen negara di dunia yang memiliki sistem pengawasan untuk mendeteksi virus.
"Masih ada banyak celah di pertahanan dunia dan tidak ada satu pun negara yang memiliki segalanya," tuturnya menambahkan.
Saat ini, terdapat lebih dari 2,6 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus tersebut telah melampaui angka 182 ribu jiwa, dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 701,509.
Pandemi corona sendiri telah memicu tidak hanya keadaan darurat kesehatan, tetapi juga kemunduran ekonomi global, dengan bisnis-bisnis yang berjuang mati-matian untuk tetap bertahan, jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan banyak korban lainnya menghadapi kelaparan.
(wk/luth)