Wanita Thailand Bunuh Diri di Tengah Wabah Corona, Pandemi Pemicu Depresi?
Dunia

Seorang ibu di Thailand nekat mengakhiri hidupnya sendiri usai kehilangan pekerjaan di tengah pandemi corona. Lantas benarkah adanya wabah COVID-19 ini menyebabkan depresi yang berakhir dengan meningkatnya frekuensi bunuh diri?

WowKeren - Seorang ibu dua anak di Thailand ditemukan gantung diri di tengah pandemi corona. Aksi nekat mengakhiri hidup tersebut dilakukannya usai kehilangan pekerjaan dan tak lagi bisa membeli susu untuk bayinya.

Dilansir AsiaOne, Kamis (23/4), Maha Sarakham Irada Lordpet (26) ditemukan tak bernyawa pada Senin lalu dalam kondisi tergantung di rumahnya. Usai ditemukan oleh saudara laki-lakinya, ia kemudian dibawa ke rumah sakit sayangnya ia dinyatakan meninggal dalam perjalanan.

Somjit Siwai, kepala desa Pao tempat Irada tinggal mengatakan keluarga itu sangat miskin dan Irada baru saja bercerai. Mendiang memiliki dua orang putra berusia enam tahun dan enam bulan.

Lebih lanjut, Somjit mengatakan bahwa Irada bekerja berjualan yogurt, tapi tidak dapat menghasilkan uang ketika wabah Covid-19 melanda. Kemudian dia tidak bisa membayar tagihannya dan tak mampu lagi membeli susu untuk bayinya.

Irada lalu meminta Somjit untuk memperpanjang pinjamannya dan kepala desa mengatakan dia akan menghubungi pihak bank. Akan tetapi, Somjit lantas menerima telepon dari ibu Irada yang mengatakan bahwa putrinya telah meninggal.


Sementara itu, adanya pandemi COVID-19 yang tengah menyebar di seluruh negara di dunia kerap disebut sebagai penyebab orang-orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dalam Journal of American Medical Association mengatakan sejumlah hal yang dapat meningkatkan frekuensi keinginan untuk bunuh diri di tengah wabah.

Seperti menjaga jarak sosial atau social distancing, penguncian wilayah yang menyebabkan ekonomi tak stabil, serta gelombang PHK besar-besaran karena banyak perusahaan yang gulung tikar. Bahkan di Amerika sendiri hampir sepertiga dari populasi tidak dapat membayar uang sewa pada bulan April.

"Pengangguran akan mengarah pada peningkatan bunuh diri, penyalahgunaan obat-obatan, kekerasan dalam rumah tangga, tunawisma dan kerawanan pangan," tulis profesor Universitas Johns Hopkins Stefanie DeLuca dan James Coleman. "Ribuan orang akan mati karena sebab-sebab ini, dan banyak lagi lainnya akan terluka parah dan mengalami trauma seumur hidup."

Diskusi tentang efek jangka panjang pandemi corona terhadap kesehatan mental dan kematian sempat menjadi kontorversi. Ekonomi yang tak stabil dan tingginya pengangguran dapat menjadi penyebab kematian seseorang.

Adalah Harvey Brenner dari Universitas Johns Hopkins yang telah menghabiskan beberapa dekade meneliti hubungan antara pengangguran dan kematian. Dalam penelitian (1977) yang dikutip, setiap ada peningkatan 1% dalam pengangguran nasional, tingkat bunuh diri akan naik 4,1% dan total tingkat kematian untuk negara itu akan naik sebesar 2%.

Presentase angka-angka tersebut mungkin tiap tahunnya dapat berubah, tapi penelitian Brenner telah secara konsisten menunjukkan korelasi antara tingkat pengangguran yang tinggi menyebabkan peningkatan angka kematian. Sebaliknya, jika tingkat pengangguran rendah maka angka kematian pun juga akan rendah.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait