AS Rawat Pasien Corona Dengan Obat Malaria, Begini Hasilnya
Dunia

Para peneliti Amerika Serikat merawat pasien corona dengan menggunakan obat malaria (hidroksiklorokuin). Perawatan itu pada akhirnya memberikan hasil seperti berikut.

WowKeren - Sejumlah negara di dunia telah terinfeksi virus corona. Sayangnya, obat untuk COVID-19 masih belum ditemukan hingga saat ini.

Karena itu, sejumlah negara telah menggunakan obat alternatif untuk merawat pasien-pasien tersebut. Salah satunya dengan menggunakan obat malaria hidroksiklorokuin (hydroxychloroquine).

Tak sedikit pihak yang meragukan keampuhan hidroksiklorokuin dalam mengobati pasien COVID-19, bahkan sekelompok peneliti di AS menganalisis retrospektif data ratusan pasien virus corona yang diberi obat malaria itu.

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hidroksiklorokuin untuk mengobati pasien virus corona tidak memiliki manfaat. Para peneliti yang terlibat dalam studi itu justru menemukan, ada lebih banyak kematian di antara pasien COVID-19 yang diberi hidroksiklorokuin ketimbang yang dirawat secara standar.

Tim ilmuwan yang terdiri dari peneliti di University of South Carolina, Dorn Research Institute, serta University of Virginia menjelaskan mereka telah menganalisis data 368 pasien laki-laki virus corona SARS-CoV-2. Para pasien ini dirawat di seluruh pusat kesehatan Administrasi Kesehatan Veteran AS per 11 April 2020.

Dari 368 pasien tersebut, peneliti membagi mereka jadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi 97 orang yang hanya diberikan obat hidroksiklorokuin selama dirawat.


Kelompok kedua berjumlah 113 orang yang dirawat dengan hidroksiklorokuin dan azitromisin (azithromycin). Sedangkan kelompok ketiga berisi 158 pasien yang tidak diberikan hidroksiklorokuin.

Para pasien yang diberikan obat malaria hidroksiklorokuin saat perawatan justru punya tingkat kematian yang lebih tinggi. Dalam catatan para peneliti, tingkat kematian pasien yang hanya diberikan hidroksiklorokuin mencapai 27,8 persen, dan 22,1 persen di kelompok hidroksiklorokuin dan azitromisin. Sedangkan pasien yang tidak diberikan hidroksiklorokuin memiliki tingkat kematian 11,4 persen.

Periset juga mencatat tingkat kebutuhan ventilasi di kelompok hidroksiklorokuin mencapai 13,3 persen. Sedangkan pada kelompok hidroksiklorokuin dan azitromisin hanya 6,9 persen, dan kelompok terakhir mencapai 14,1 persen.

"Dalam penelitian ini, kami tidak menemukan bukti bahwa penggunaan hidroksiklorokuin, baik dengan atau tanpa azitromisin, mengurangi risiko ventilasi mekanik pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19," kata tim peneliti dalam laporannya.

"Hubungan peningkatan kematian juga diidentifikasi pada pasien yang hanya diobati dengan hidroksiklorokuin," sambungnya. "Temuan ini menyoroti pentingnya menunggu hasil studi prospektif, acak, terkontrol yang berkelanjutan sebelum adopsi luas dari obat ini."

Meski begitu, para peneliti Negara Paman Sam ini menyebutkan bahwa laporan mereka bisa jadi memiliki kekurangan. Hasil penelitian ini telah diterbitkan di jurnal medis medRxiv pada Selasa (21/4) lalu. Namun, riset ini belum melalui tahap peer-review oleh peneliti lain.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait