Salah satu gereja di Seoul, Korea Selatan, kembali menjadi klaster baru virus corona. Pemerintah setempat pun meminta ribuan jemaat gereja untuk melakukan karantina demi menghindari penyebaran COVID-19.
- Nidya Putri
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 11:01 WIB
WowKeren - Kasus COVID-19 di Korea Selatan, kembali bertambah. Kali ini salah satu gereja menjadi salah satu yang menyumbang kasus baru di Negeri Ginseng tersebut.
Oleh karena itu, ribuan jemaat gereja Protestan di Seoul, Korea Selatan (Korsel) diminta untuk melakukan karantina untuk menghindari wabah virus corona. Perintah ini dikeluarkan pemerintah setempat setelah salah satu gereja di Seoul, Gereja Sarang Jeil, menjadi salah satu kluster penyebaran virus corona terbesar di kota itu. Sejak akhir pekan lalu, pemerintah Seoul dan provinsi Gyeonggi melarang kegiatan gereja.
Mereka juga melarang warga bepergian setelah terjadi lonjakan kasus baru yang menimbulkan kekhawatiran terjadi gelombang dua kasus penularan corona. Diketahui, terdapat 315 kasus positif virus corona terkonfirmasi, terkait dengan gereja Sarang Jeil.
Menurut keterangan pejabat setempat, angka ini menjadikan gereja itu sebagai kluster terbesar di Korsel sejauh ini. Akibatnya, sebanyak 3.400 anggota kongregasi gereja ini diminta untuk melakukan karantina. Sebanyak satu dari enam anggota gereja yang diuji terbukti positif.
"Sehingga mengharuskan rapid test dan isolasi," jelas Wakil Menteri Kesehatan Kim Gang-lip, Senin (17/8), seperti dilansir AFP. Namun, Kim mengeluh daftar anggota yang disediakan oleh gereja tidak akurat. Sehingga, hal ini menyulitkan pemerintah membuat prosedur pengujian dan isolasi.
Perintah karantina kepada anggota gereja tersebut dilakukan sebagai usaha Korsel untuk memerangi kluster penularan virus corona yang terkait dengan kelompok religius. Seperti yang diketahui, Korsel mengatasi penularan dengan pelacakan, pengetesan, dan penyembuhan.
Sementara itu, Gereja Sarang Jeil di Seoul dipimpin oleh pastor konservatif yang kontroversial, Jun Kwang-hun. Pada akhir pekan lalu Jun menjadi salah satu pemimpin aksi protes kepada Presiden Moon Jae-in.
Jun saat itu berpidato di depan ribuan pengunjuk rasa sayap kanan untuk melakukan unjuk rasa melawan pemerintah kiri-tengah Moon di jantung kota Seoul. Padahal saat itu pemerintah tengah menyerukan agar tidak melakukan pertemuan besar.
Atas tindakan Jun itu, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korsel serta pemeritnah Kota Seoul telah melakukan dua pengaduan terpisah kepada Jun. Ia dituduh sengaja menghalangi upaya untuk menahan laju penularan epidemi.
(wk/nidy)