Adapun produk yang diuji klinis adalah Cordyceps militaris dan kombinasi ekstrak herbal. Kombinasi ekstrak herbal terdiri dari rimpang jahe merah hingga daun sembung.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 18 Agustus 2020 - 13:26 WIB
WowKeren - Sejumlah inovasi tengah dikembangkan untuk melawan virus COVID-19. Selain vaksin, Indonesia juga berupaya untuk mengembangkan imunomodulator herbal.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengumpulkan data hasil uji klinis imunomodulator herbal tersebut. Nantinya, hasil ini akan diserahkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku regulator.
"Kita sedang melakukan data cleaning atau verifikasi data," kata Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Imunomodulator Herbal untuk Penanganan COVID-19 Masteria Yunovilsa Putra, dilansir Antara, Selasa (18/8). "Untuk memastikan data penelitian akurat dan dapat dipercaya."
Setelah proses verifikasi selesai maka data akan dianalisa secara statistik. Imunomodulator sendiri berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia.
Adapun produk yang diuji klinis adalah Cordyceps militaris dan kombinasi ekstrak herbal. Kombinasi ekstrak herbal ini terdiri dari rimpang jahe merah, daun meniran, sambiloto, dan daun sembung.
Masteria mengatakan jika kombinasi herbal ini sudah diformulasikan dan memiliki prototipe. Bahan-bahan yang dibuat untuk ekstrak herbal ini berasal dari biodiversitas Indonesia. "Kombinasi herbal ini sudah diformulasikan, memiliki data stabilitas dan ada prototipenya," tuturnya.
Terkait hasil uji klinis itu sendiri, LIPI masih belum memberikan keterangan secara detail. "Kami belum berani mengatakan, kita tunggu hasil analisa dari teman BPOM," ujarnya.
Untuk uji klinis imunomodulator herbal ini, LIPI tidak sendiri. Ada Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, hingga BNPB.
Adapun subjek untuk penelitian ini adalah pasien COVID-19 yang baru dinyatakan positif melalui RTPCR serta memiliki gejala pneumonia ringan. Subjek juga bukan merupakan pasien hamil, penderita komorbid seperti demam berdarah dengue, demam tifus, gangguan jantung, gangguan ginjal, maupun memiliki alergi terhadap produk yang diujikan.
"Metode uji klinis kandidat imunomodulator dilakukan secara acak terkontrol tersamar ganda," ujar Masteria. "Dengan plasebo untuk menghindari terjadinya bias pada penelitian."
(wk/zodi)