Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyebutkan jika Malaise menjadi salah satu gejala ringan terjadinya infeksi virus corona (COVID-19) pada seseorang.
- Nidya Putri
- Senin, 14 September 2020 - 13:01 WIB
WowKeren - Gejala virus corona (COVID-19) yang dialami seseorang berbeda-beda. Namun, tanda dan gejala umum yang kerap terjadi adalah gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk, dan sesak napas.
Perlu diketahui, hingga saat ini COVID-19 telah menginfeksi 28,9 juta orang di dunia. Masa inkubasi virus corona sendiri rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari.
Mengutip dari Tanya Jawab Seputar Virus Corona yang disusun oleh Kementerian Republik Indonesia, USAID, dan Germas, Mei 2020, salah satu gejala ringan terjadinya infeksi virus corona adalah Malaise. Istilah tersebut terdengar masih asing bagi masyarakat awam.
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan, meski terdengar asing, malaise sebenarnya adalah istilah yang umum di bidang kedokteran. "Malaise itu rasa lesu, lemah, lemes. Mau ngapa-ngapain jadi males karena nggak ada tenaga. Itu adalah respon bahwa tubuh itu sedang dalam situasi melawan infeksi," kata Dicky, Minggu (13/9).
Lebih lanjut, Dicky mengatakan bahwa malaise adalah salah satu bentuk reaksi pertahanan tubuh. Tujuannya adalah, agar tubuh beristirahat dan bisa berkonsentrasi untuk melawan ancaman yang masuk. "Malaise tidak cuma di COVID-19. Semua penyakit infeksi itu umumnya mengalami gejala itu," terangnya.
Namun, Dicky menambahkan, ada perbedaan definisi antara malaise dengan kelelahan, atau yang dalam bahasa Inggris disebut fatigue. "Fatigue adalah kelelahan yang teramat sangat, kurang energi, kurang motivasi. Itu berbeda dengan malaise, yang menjelaskan secara umum perasaan lelah. Karena disebut perasaan maka sifatnya subjektif," jelasnya.
Dicky juga menjelaskan waktu yang tepat untuk melakukan tes untuk mendeteksi virus corona apabila seseorang seseorang merasa mengalami malaise. "Tinggal melihat perilakunya, katakanlah dalam dua minggu terakhir, berisiko tidak. Seperti misalnya, jarang pakai masker, sering kumpul-kumpul, kalau makan berdekatan, gowes bareng, termasuk bepergian dengan kendaraan umum," terangnya.
Jadi, seseorang bisa mengukur sendiri apakah dirinya termasuk berisiko tertular COVID-19 atau tidak. Jika merasakan gejala malaise, dan riwayat perilaku dalam dua minggu terakhir ternyata memang berisiko tinggi, maka Dicky menyarankan untuk segera mengambil tindakan.
Pertama yang harus dilakukan mengistirahatkan diri di tempat tinggal masing-masing, baik itu di rumah maupun di kos. Jangan pulang kampung. "Setelah itu dia bisa menghubungi tenaga kesehatan, atau menginformasikan kantornya bahwa dia merasakan sakit. Kemudian melakukan janji temu dengan dokter untuk pemeriksaan," kata Dicky.
Perihal pemeriksaan COVID-19 tidak bisa dilakukan secara mendadak, kecuali bila memang merasa sakit parah, seperti sesak napas dan harus mendapat perawatan di IGD (Instalasi Gawat Darurat). "Umumnya di Indonesia, kalau ada malaise itu disertai dengan gangguan penciuman. Dia tidak bisa mencium bau kuat, misalnya minyak kayu putih. Jika tidak sedang pilek dan kesulitan mencium bau, maka ada dugaan kuat terinfeksi COVID-19, tapi belum diagnosa," jelasnya.
(wk/nidy)