Penelitian terbaru menemukan fakta baru seputar penularan virus corona. Berbicara secara pelan ternyata bisa mengurangi risiko penularan COVID-19. Ini penjelasannya.
- Ruth Meliana
- Senin, 14 September 2020 - 13:47 WIB
WowKeren - Penelitian terbaru mengungkapkan fakta terkini seputar penularan virus corona. Hal ini berkaitan dengan penyebaran COVID-19 yang bisa terjadi saat orang-orang berbicara.
Sebelumnya, para ahli meyakini jika berbicara satu sama lain dapat membuat virus corona semakin menyebar luas melalui airborne. Namun dalam penelitian terbaru, ditemukan jika berbicara dengan pelan ternyata sanggup mengurangi risiko penularan virus corona secara drastis.
Penelitian ini dilakukan oleh ahli dari University of California. Dalam studinya, peneliti mengklaim jika mengurangi 6 desibel suara bisa memberikan efek yang sama pada pemotongan transmisi virus corona daripada menggandakan ventilasi ruangan.
”Hasilnya menunjukkan otoritas kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan penerapan zona tenang di lingkungan dalam ruangan yang berisiko tinggi,” ujar Ketua Peneliti dari University of California, William Ristenpart seperti dilansir dari The Sun pada Senin (13/9). “Seperti ruang tunggu rumah sakit atau fasilitas makan.”
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri pada Juli 2020 telah mengubah panduan protokol kesehatan setelah mengakui jika penularan COVID-19 dapat melalui udara. Paduan yang diubah seperti latihan paduan suara atau ketika berada di restoran yang bising.
Peneliti menjelaskan jika tetesan mikroskopis yang dikeluarkan ketika berbicara akan cepat menguap dan meninggalkan partikel aerosol cukup besar yang membawa virus. Alhasil, peningkatan kenyaringan suara sekitar 35 desibel atau berbicara dengan teriak bisa meningkatkan laju emisi partikel virus sebesar 50 kali lipat.
Menurut peneliti, orang normal biasanya akan berbicara pada nada kisaran 10 desibel. Sedangkan suara bising yang terdengar biasanya dari restoran, dengan mencapai 70 desibel.
Meski demikian, risiko penularan virus corona secara aerosol belum tentu sama antara satu dengan yang lainnya. “Tidak semua lingkungan dalam ruangan sama dalam hal risiko penularan virus melalui aerosol,” jelas Ristenpart.
Para peneliti lantas melihat jumlah aerosol dan tetesan yang dihasilkan oleh beberapa orang dengan volume suara berbeda. Cara ini memungkinkan para peneliti menganalisis aerosol yang dihasilkan oleh suara tertentu. Hasilnya, volume suara memegang pengaruh terbesar pada jumlah aerosol yang dihasilkan.
Nyanyian atau teriakan pada tingkat yang paling keras bisa menghasilkan aerosol 30 kali lebih banyak. Oleh sebab itu, peneliti menyarankan semua orang untuk berbicara lebih pelan atau lirih.
(wk/lian)