Varian Mu yang tengah dipantau WHO ini pertama kali ditemukan di Kolombia dan memiliki mutasi yang menunjukkan adanya risiko kekebalan terhadap vaksin yang ada saat ini.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 04 September 2021 - 11:36 WIB
WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belakangan memantau varian baru virus corona (COVID-19) yang dinamakan Varian Mu. Varian ini pertama kali ditemukan di Kolombia dan memiliki mutasi yang menunjukkan adanya risiko kekebalan terhadap vaksin yang ada saat ini.
Kementerian Kesehatan RI lantas memastikan bahwa Varian Mu hingga saat ini masih belum ditemukan di Indonesia. "Kalau sampai sekarang dari banyak varian yang ditemukan varian Mu belum terdeteksi di Indonesia," ungkap Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, Jumat (3/9).
Meski belum masuk ke Indonesia, pemerintah sendiri tetap mengawasi Varian Mu tersebut. "Tentunya kita tahu bahwa varian ini kan perlu kita waspadai," kata Nadia dilansir Tempo.
Menurutnya, Indonesia telah memiliki protokol sesuai Surat Edaran Satgas Nomor 8 Tahun 2021 tentang perjalanan pelaku internasional. Hal tersebut dapat dijadikan filter awal penyebaran dan diharapkan bisa mencegah masuknya varian baru.
"Tentunya kita tahu pemeriksaan whole genome sequencing kan harus dilakukan pada pelaku perjalanan luar negeri. Jadi kita monitoring hal tersebut lewat kondisi tersebut," paparnya.
Lebih lanjut, Nadia menjelaskan bahwa WHO menggolongkan Varian Mu sebagai Variant of Interest pada 30 Agustus 2021 lalu. Hal tersebut berarti Varian Mu masih harus dikaji lebih lanjut terkait dampaknya ke masyarakat.
"Apakah betul secara luas menimbulkan peningkatan penularan, kecepatan penularannya meningkat, atau juga mempengaruhi efikasi dari vaksin," tuturnya.
Varian Mu sendiri disebut memiliki beberapa kesamaan dengan Varian Beta. Namun Nadia menuturkan bahwa varian baru tersebut masih belum bisa digolongkan ke tahap yang lebih berbahaya.
"Walaupun sudah dilaporkan di 39 negara, Varian Mu ini secara global terjadi penurunan. Khusus di negara Kolombia dan Ekuador, itu prevalensinya kan stabil tetap tinggi. Makanya digolongkan sebagai variant of interest," pungkas Nadia.
(wk/Bert)