Studi Baru Ungkap Pandemi COVID-19 Sebabkan Penurunan Harapan Hidup Terbesar Sejak Perang Dunia II
AFP
Dunia
Pandemi Virus Corona

Berdasarkan studi tersebut, 22 dari 29 negara yang dianalisa menunjukkan penurunan harapan hidup lebih dari enam bulan pada tahun 2020. Secara keseluruhan, ada pengurangan harapan hidup di 27 negara.

WowKeren - Sebuah penelitian yang dilakukan Oxford University menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan harapan hidup terbesar sejak Perang Dunia II. Berdasarkan studi tersebut, 22 dari 29 negara yang dianalisa menunjukkan penurunan harapan hidup lebih dari enam bulan pada tahun 2020. Secara keseluruhan, ada pengurangan harapan hidup di 27 negara.

Studi tersebut menyatakan bahwa sebagian besar pengurangan harapan hidup di berbagai negara dapat dikaitkan dengan kematian resmi COVID-19. Berdasarkan penghitungan Reuters, pandemi COVID-19 telah merenggut nyawa 5 juta orang di seluruh dunia per Jumat (1/10).

"Fakta bahwa hasil (studi) kami menyoroti dampak besar yang secara langsung dapat dikaitkan dengan COVID-19 menunjukkan betapa dahsyatnya itu bagi banyak negara," tutur Dr Ridho Kashyap selaku salah satu penulis makalah yang diterbitkan dalam International Journal of Epidemiology tersebut.

Di sebagian besar negara, populasi pria mengalami penurunan harapan hidup yang lebih besar dibanding wanita. Harapan hidup pria Amerika mengalami penurunan terbesar, yakni mencapai 2,2 tahun dibandingkan tahun 2019.


Secara keseluruhan, harapan hidup pria di 15 negara berkurang satu tahun. Sedangkan penurunan harapan hidup wanita sebesar satu tahun hanya ditemukan di 11 negara. Penurunan angka harapan hidup karena pandemi ini telah menghapus kemajuan tingkat kematian dalam 5,6 tahun terakhir.

Di Amerika Serikat, peningkatan angka kematian tampak pada kelompok usia kerja dan mereka yang berusia di bawah 60 tahun. Sebaliknya di Eropa, tingkat kematian meningkat pada kelompok usia di atas 60 tahun. Adapun Dr Kashyap mengimbau lebih banyak negara, termasuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, untuk membuat data kematian tersedia untuk studi lebih lanjut.

"Kami sangat mendesak publikasi dan ketersediaan lebih banyak data terpilah untuk lebih memahami dampak pandemi secara global," pungkasnya.

Di sisi lain, AS telah mencapai tonggak memilukan dengan mencatat angka kematian COVID-19 yang melampaui 700 ribu kasus per Jumat kemarin. Adapun angka kematian COVID-19 yang mencapai hingga 700 ribu kasus itu melonjak dalam tiga bulan dari jumlah kasus sebelumnya sebesar 600 ribu. Bahkan angka kematian ini disebut lebih besar dibandingkan dengan populasi Boston.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts