Pemerintah Malaysia akhirnya menyetujui untuk menggunakan jenis vaksin COVID-19 yang berbeda untuk booster. Hal ini disampaikan oleh Menkes Malaysia, Khairy Jamaluddin.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Senin, 04 Oktober 2021 - 15:46 WIB
WowKeren - Banyak negara di dunia yang saat ini tengah memperiapkan, bahkan telah menyuntikkan dosis ketiga vaksin COVID-19 atau booster kepada penduduknya. Adapun vaksin yang digunakan bisa sama dengan yang digunakan saat penyuntikkan dosis pertama dan kedua, tetapi juga ada yang berbeda.
Salah satu negara yang tengah mempersiapkan penyuntikkan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga adalah Malaysia. Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia, Khairy Jamaluddin menyampaikan bahwa pemerintah kini telah menyetujui penggunaan vaksin COVID-19 berbeda untuk penerima booster.
"Kami mengizinkan vaksinasi heterolog di mana kami mencampur vaksin untuk dosis booster mereka, yang akan diluncurkan bulan ini," terang Khairy di Gedung DPR, Senin (4/10). "Kajian keamanannya sudah dilakukan dan kami yakin aman untuk dikelola."
Melansir malay mail, vaksinasi COVID-19 heterolog ini mengacu pada rezim di mana vaksinasi booster kedua dilakukan dengan jenis vaksin yang berbeda dari vaksinasi pertama. Adapun jenis vaksin COVID-19 yang telah digunakan Malaysia dalam penyuntikkan vaksinasi kepada penduduknya adalah Pfizer-BioNTech, AstraZeneca dan Sinovac.
Lebih lanjut, Khairy menuturkan bahwa Komite Khusus untuk Memastikan Akses Pasokan Vaksin COVID-19 (JKJAV) telah bertemu pada pekan lalu, dan memutuskan untuk melanjutkan dengan mencampur suntikan booster. Menurutnya, Kepala Institut Penelitian Medis Dr Kalaiarasu M. Peariasamy telah meyakinkan pihak JKJAV bahwa dosis booster aman dan dengan demikian, mereka akan menyetujuinya.
Akan tetapi, Khairy tidak merinci apakah individu dapat memilih booster shot mana yang ingin mereka ambil. Sementara itu, pemerintah berencana untuk meluncurkan booster bulan ini bagi mereka yang telah divaksinasi lengkap mulai dari kelompok berisiko tinggi sebagai prioritasnya.
Sementara mengenai kondisi COVID-19 di Malaysia sendiri, pada bulan September, mencetak rekor angka kematian sebanyak 9.671 kasus. Angka ini disebut paling tinggi sejak pandemi COVID-19 berlangsung di Malaysia.
Meski demikian, pihak otoritas mengungkapkan bahwa kenaikan angka kematian akibat COVID-19 itu disebabkan oleh keterlambatan masuknya data dari bulan-bulan sebelumnya. Adapun alasan dibalik terlambatnya data kematian masuk itu lantaran meningkatnya kasus yang membuat rumah sakit dan laboratorium pengujian kewalahan.
(wk/tiar)