Kebijakan Mendag Soal Gunakan PeduliLindungi Saat Masuk Mal Dinilai Efektif Gerakkan Ekonomi
Unsplash/mostafa meraji
Nasional
PPKM Darurat

Pemerintah memutuskan untuk kembali membuka pusat perbelanjaan saat PPKM dengan menerapkan kebijakan prokes secara ketat. Hal ini lantas disambut baik oleh para pengusaha ritel.

WowKeren - Di masa pandemi COVID-19 dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali seperti sekarang ini, penggunaan aplikasi PeduliLindungi wajib hukumnya saat hendak memasuki fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan atau mal. Kebijakan ini telah diterapkan sejak beberapa waktu lalu.

Sementara mengenai pembukaan pusat perbelanjaan atau mal secara bertahap dan hati-hati merupakan kebijakan dari Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. Hal ini pun disambut baik oleh Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) yang memberikan apresiasinya kepada Lutfi.

Kebijakan Lutfi dalam membuka kembali mal secara bertahap dan hati-hati itu dinilai mampu menggerakkan perekonomian secara keseluruhan. Dalam pembukaan mal kembali, Lutfi juga menerapkan SOP PeduliLindungi secara ketat.

"Apa yang dilakukan Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait pembukaan mal dengan penerapan SOP PeduliLindungi sangat hati-hati," terang Dewan Penasehat Hippindo Handaka Santosa dalam keterangan resmi, Selasa (5/10). "Dibukanya bertahap, paling ketat lagi harus menggunakan QR code PeduliLindungi."


Lebih lanjut, Handaka menuturkan bahwa saat ini, seluruh pusat perbelanjaan sudah dibuka, meski bertahap. Adapun pembukaan mal ini diawali di empat wialyah yakni DKI Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Kemudian disusul oleh kota-kota lainnya di seluruh wilayah Indonesia.

Handaka mengungkapkan bahwa "mimpi buruk" bagi pengusaha ritel adalah pada saat pusat perbelanjaan ditututup. Pasalnya, hal ini membuat mereka tidak mendapatkan pemasukan, sedangkan pengeluarannya tetap berjalan seperti menggaji pegawai, membayar iuran BPJS, dan lain sebagainya.

Artinya bahwa, kata Handaka, pembukaan pusat perbelanjaan itu sudah tepat bagi semua pihak. Istilahnya adalah ritel is detail karena multiplier efeknya sangat kompleks.

"Contohnya, ketika masyarakat beli baju atau celana, si penjual tentu akan order lagi ke pemasok," jelas Handaka. "Kemudian si pemasok membeli kain, benang, dan seluruh keperluan lainnya. Jadi ini menggerakkan ekonomi secara keseluruhan."

Selama kurang lebih satu bulan mal telah dibuka, Handaka mengaku bersyukur karena pemerintah, khusunya Mendag, lantaran memperhatikan nasib dunia usaha. Meski mal dibuka dengan hati-hati, kegiatan ekonomi sudah bisa kembali berjalan, sehingga kegiatan usaha, khususnya di sektor ritel dan turunannya kembali bergairah.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts