Teroris itu ditangkap jelang kunjungan kerja Presiden Joko Widodo pada 2017. Setelah menjalani deradikalisasi, sang teroris mengaku memiliki 35 kg bahan baku peledak TATP di kaki Gunung Ciremai.
- Elvariza Opita
- Selasa, 05 Oktober 2021 - 16:13 WIB
WowKeren - Tahun 2017 lalu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap seorang terduga teroris di sekitar Bandara Cakrabhuwana, Kota Cirebon, Jawa Barat bernama Imam Mulyana. Kala itu Densus 88 mengamati tindak-tanduknya yang mencurigakan sehingga akhirnya diringkus sekitar tiga jam sebelum Presiden Joko Widodo mendarat di bandara tersebut.
Kala itu, Densus 88 lantas mengamankan beberapa barang bukti seperti koper berisi sangkur, airsoft gun, buku ajakan berjihad, sampai beberapa benda mencurigakan lain. Dan setelah dilakukan penyelidikan, terungkap Imam ternyata berniat untuk merampas senjata anggota polisi yang bertugas mengamankan kedatangan Jokowi, sekaligus melukainya.
Kronologi ini disampaikan oleh Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Ahmad Ramadhan, pada Senin (4/10). Dan Ramadhan pun menerangkan Imam ditahan di Lapas Gunung Sindur untuk kemudian mengikuti pembinaan, deradikalisasi, sampai kini akhirnya yang bersangkutan telah mengaku berikrar kepada NKRI dan setia kepada Pancasila.
Tak disangka, Imam kemudian malah menyampaikan pengakuan mengejutkan kepada Densus 88. "Dia bersama komplotannya masih menyimpan bahan baku TATP sebanyak 35 kilogram," jelas Ramadhan.
"Penyimpanan bahan peledak yang dikenal sebagai 'The Mother of Satan' karena ledakannya yang dahsyat itu berada di kaki Gunung Ciremai," sambung Ramadhan. Alhasil tim pun bergerak untuk segera mencari bahan baku peledak berkekuatan besar tersebut, meski medannya sulit dan memakan waktu berhari-hari.
"(Hingga) tim pada akhirnya menemukan bahan peledak berupa TATP sebanyak 35 kg itu di ketinggian 1.450 mdpl," tutur Ramadhan. "Di sebuah lokasi tersembunyi dan sulit untuk dijangkau. Di seputaran Blok Cipager, Desa Bantar Agung, Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat."
Penemuan bahan peledak dengan berat fantastis ini tentu menyimpan cerita tersendiri, termasuk soal efek kerusakan yang mungkin ditinggalkan di lokasi persembunyian. Hal itulah yang diungkap Kabagops Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar.
Kala itu, tim Densus 88 yang diterjunkan melakukan disposal terhadap bahan baku peledak. Dan ternyata timbul dampak kerusakan seperti lubang sedalam 20 cm dengan efek getaran yang cukup dahsyat, meski tentu saja disposal dilakukan dengan protokol pengamanan ketat.
"Menimbulkan lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 20 cm. Pemusnahan lainnya dalam jumlah beragam bahkan menimbulkan getaran hebat, lubang di permukaan tanah, pecahan batu dan tanah longsor," papar Aswin.
Skala kerusakan yang ditimbulkan ini tentu berbeda dengan apabila bahan-bahan peledak itu diledakkan begitu saja dengan campuran bahan yang lain seperti saat aksi terorisme terjadi. Kendati demikian, Densus 88 masih melakukan penelitian terkait kekuatan ledakan dari bahan "mother of satan" tersebut di laboratorium. "Sebagian sisa TATP ukuran 1,5 liter disimpan untuk penelitian lebih lanjut," pungkasnya.
(wk/elva)