Mulai Digunakan di Indonesia, Efektivitas Vaksin COVID-19 Pfizer Turun Setelah 6 Bulan
Health
Vaksin COVID-19

Studi baru menemukan bahwa efektivitas Vaksin Pfizer dalam mencegah infeksi COVID-19 turun dari 88 persen menjadi 47 persen setelah enam bulan pasca dosis kedua.

WowKeren - Vaksin COVID-19 Pfizer Inc/BioNTech kini sudah mulai digunakan di Indonesia. Namun studi baru menemukan bahwa efektivitas Vaksin Pfizer dalam mencegah infeksi COVID-19 turun dari 88 persen menjadi 47 persen setelah enam bulan pasca dosis kedua.

Data tersebut diterbitkan oleh Badan Kesehatan Amerika Serikat dalam jurnal medis Lancet dan telah dirilis pada bulan Agustus sebelum peer review. Peneliti dari Pfizer dan Kaiser Permanente mempelajari catatan kesehatan elektronik dari sekitar 3,4 juta orang yang menjadi anggota Kaiser Permanente California Selatan antara Desember 2020 dan Agustus 2021.

Namun demikian, analisis tersebut menunjukkan bahwa efektivitas vaksin dalam mencegah rawat inap dan kematian tetap berada di angka 90 persen selama setidaknya enam bulan. Bahkan terhadap Varian Delta yang sangat menular sekalipun.

Menurut peneliti, penurunan efektivitas Vaksin Pfizer dalam mencegah infeksi COVID-19 ini disebabkan oleh berkurangnya kemanjuran alias efikasi. Bukannya disebabkan oleh varian virus yang lebih menular.


"Analisis spesifik varian kami dengan jelas menunjukkan bahwa vaksin (Pfizer/BioNTech) efektif terhadap semua varian yang menjadi perhatian saat ini, termasuk Delta," ungkap Wakil Presiden Senior dan Kepala Petugas Medis di Vaksin Pfizer, Luis Jodar.

Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan potensial, yakni kurangnya data tentang kepatuhan terhadap pedoman penggunaan masker dan pekerjaan dalam populasi penelitian. Hal ini dapat memengaruhi frekuensi pengujian dan kemungkinan terpapar virus.

Efektivitas Vaksin Pfizer terhadap Varian Delta adalah 93 persen setelah bulan pertama, dan menurun menjadi 53 persen setelah empat bulan. Terhadap varian virus corona lainnya, kemanjuran menurun dari 97 persen menjadi 67 persen.

"Bagi kami, itu menunjukkan bahwa Delta bukanlah varian pelarian yang sepenuhnya menghindari perlindungan vaksin," jelas pemimpin studi tersebut, Sara Tartof. "Jika ya, kita mungkin tidak akan melihat perlindungan yang tinggi setelah vaksinasi, karena vaksinasi tidak akan bekerja dalam kasus itu. Itu akan mulai rendah, dan tetap rendah."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts