Get Healthy : Obesitas Picu Gangguan Mental, Dokter Mutiara Bagikan Tips Bangkit Dari Keterpurukan
Instagram/mutiarasangaji
Health
Get Healthy

Kondisi Obesitas Membuat Dokter Mutiara Sampai Di Titik Terendah Hidup. Bagaimana Caranya Bangkit Dari Keterpurukan Hingga Sukses Turun Berat Badan Sampai 40 Kg? Ini Kisah Selengkapnya.

WowKeren - Obesitas merupakan musuh terbesar bagi setiap orang di dunia. Tidak hanya memicu berbagai penyakit, obesitas juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Pengalaman ini pernah dialami oleh dr. Mutiara Insan Sangaji. Wanita berusia 31 tahun ini sempat mengalami kenaikan berat badan hingga 50 kg pasca melahirkan anak kembar. Gara-gara peristiwa tersebut, ia sempat kehilangan rasa percaya diri.

Semasa muda, dr. Mutiara adalah pribadi yang penuh semangat dan percaya diri. Namun saat obesitas menyerang, ia merasa kehilangan versi terbaik dirinya. Apalagi, ia juga sempat menderita gagal jantung pasca melahirkan (PPCM). Aktivitasnya pun kian terbatas.


Photo-INFO

Dokumentasi dr. Mutiara



Kondisi obesitas dan gagal jantung membuat dr. Mutiara sampai di titik terendah hidupnya. Tidak hanya kepercayaan diri yang hilang, ia juga mulai menarik diri dari lingkungan sekitar. Ia merasa takut dan enggan bertemu orang lain selain keluarga dekat. Bagi dr. Mutiara, berada di sisi keluarga dekat adalah zona nyamannya.

Cukup lama terjebak di zona nyaman membuat dr. Mutiara sempat terpuruk. Sampai suatu ketika, ia menemukan dorongan kuat untuk segera berubah dan bangkit. Akhirnya setelah mengalami kenaikan 50 kg, kini dr. Mutiara sudah sukses menurunkan berat badan hingga 40 kg.

Kepada WowKeren untuk rubrik Get Healthy, dr. Mutiara secara eksklusif berbagi tentang cara bangkit dari keterpurukan hingga menemukan kembali versi terbaik dirinya. Penasaran seperti apa? Ini dia kisah selengkapnya.

(wk/yoan)

1. Obesitas Menyembunyikan Versi Terbaik Diri Sendiri


Obesitas Menyembunyikan Versi Terbaik Diri Sendiri
pexels/Andres Ayrton

Didiagnosa gagal jantung dengan kondisi obesitas membuat dr. Mutiara harus hidup berdampingan dengan tabung oksigen. Hampir satu tahun ia tidak bisa melakukan aktivitas yang terlalu berat. Ia mengaku dunianya menjadi gelap dan sampai di titik terendah.

"Aku itu tipe orang yang masih muda dan semangatnya tinggi. Ketika aku dihadang seperti itu, aku merasa hidupku gelap, dan tidak ada motivasi sama sekali," ujar dr. Mutiara. "Saat itu aku diterima kerja, (tapi) aku tolak walaupun banyak banget yang mendaftar. Aku merasa tidak percaya diri sama kemampuanku. Karena aku aktivitasnya terbatas kan. Aku enggak bisa capek-capek (seperti) jaga malam di IGD kayak teman-teman."

Kondisi itu membuat dr. Mutiara mulai kehilangan versi terbaik dirinya. Sosoknya yang ceria, penuh semangat, pandai bersosialisasi, serta percaya diri mendadak hilang. Ia berubah menjadi sosok yang berbeda.

2. Obesitas Memengaruhi Kesehatan Mental


Obesitas Memengaruhi Kesehatan Mental
pexels/Pixabay

Tidak hanya kehilangan versi terbaik, dr. Mutiara juga mengaku obesitas memengaruhi kesehatan mentalnya. Ia merasa lebih emosional dan tiba-tiba sedih tanpa alasan. Meski demikian, saat itu dr. Mutiara masih bertahan di zona nyaman dan enggan memutuskan berubah.

"(Saat obesitas) Aku jadi sensitif, mudah marah, merasa tidak percaya diri, dan menarik diri. Kadang-kadang, aku (juga) suka merasa sedih tiba-tiba," ungkap dr. Mutiara. "Mungkin bisa dibilang agak depresi karena aku sudah mulai menarik diri, tidak ada niat melakukan apa-apa, berubah pun enggak mau."

Perasaan sensitifnya semakin terasa ketika dr. Mutiara harus bertemu dengan banyak orang. Pertemuan dengan keluarga jauh dan teman-teman sangat membebaninya.

"Apalagi, ketemu saudara yang sudah lama enggak bertemu. Tiba-tiba, 'eh, kok gendut banget'. Ketika dia ngomong, pas di depannya kita baik-baik saja. Tapi, (setelah itu) kita jadi bisa memikirkan seharian. Itu menimbulkan badmood buat aku," lanjut dr. Mutiara.

3. Temukan Motivasi Yang Kuat Untuk Kontrol Diri


Temukan Motivasi Yang Kuat Untuk Kontrol Diri
Instagram/mutiarasangaji

Saat datang ke acara resepsi dan bertemu banyak orang asing untuk pertama kali, dr. Mutiara merasa tidak nyaman. Ia beranggapan ada banyak orang yang menatapnya aneh. Hal ini membuat dr. Mutiara sangat down hingga menangis.

"Menurutku, motivasi di dunia ini ada dua, positif dan negatif. Motivasi negatif berdasarkan pengalaman yang bikin kita enggak enak," ungkap dr. Mutiara. "Cuma memang (waktu itu) alasan utamanya buat anak-anak sama suamiku. Karena mereka masih kecil, mereka masih membutuhkan aku."

Kejadian tersebut sontak mendorong dr. Mutiara untuk melakukan diet. Ia mantap ingin berubah, bangkit, dan menemukan kembali versi terbaiknya. Jadi, bagi kalian yang ingin segera bangkit dari keterpurukan, menemukan motivasi yang kuat adalah cara terbaik.

"Kita harus menemukan motivasi yang paling kuat di dalam diri. Karena ketika motivasi kita rendah, gangguan sekecil apapun bisa menganggu proses diet. Tapi ketika kita sudah teguh dan kukuh pendirian, gangguan apapun di depan kita, kita bisa menolak. Karena kita sudah bisa berhasil kontrol diri kita sendiri," lanjut dr. Mutiara.

4. Berani Keluar Dari Zona Nyaman


Berani Keluar Dari Zona Nyaman
pexels/Jackson David

Setelah mendapatkan motivasi yang kuat, dr. Mutiara menemukan amunisi untuk bangkit. Ia tidak ingin lagi terjebak dengan zona nyaman. Ia lantas berjuang untuk memulai diet.

"Aku enggak mau bertahan dengan berat badanku yang seperti dulu (obesitas). Aku enggak mau membiarkan diriku terjebak," ujar dr. Mutiara. "Kalau aku tetap begini terus, enggak kontrol makan, bodoh amat sama diriku, terjebak di diriku yang seperti ini (obesitas) dan merasa nyaman, itu enggak baik buat kesehatan aku."

Bagi dr. Mutiara, memulai diet memang sulit karena harus membiasakan pola hidup yang sehat. Namun dengan motivasi yang kuat, semua orang pasti bisa melaluinya. Selain itu, seseorang harus memiliki keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

"Dengan berat badan obesitas, jangan sampai merasa ini adalah zona nyaman. Kita tidak bisa memelihara obesitas. Ketika kita merasa berat badan (sudah) di fase obesitas, lebih baik mencari motivasi untuk kembali ke berat badan ideal," pesan dr. Mutiara.

5. Pahami Lagi Arti Self Love


Pahami Lagi Arti <i>Self Love</i>
pexels/Hassan OUAJBIR

Diakui dr. Mutiara, banyak orang yang salah mengartikan self love. Mereka menganggap bahwa bertubuh gemuk tidak apa-apa asal mencintai diri. Padahal anggapan ini salah. Justru, obesitas bisa menjadi pemicu berbagai macam penyakit yang berbahaya.

"Tapi, ketika orang sudah obesitas dan dikatakan harus self love dengan menerima badan yang obesitas, (sebenarnya) itu sangat tidak dianjurkan. Dia (obesitas) akan berkomplikasi penyakit kalau tidak kita kontrol," jelas dr. Mutiara. "Self love yang sesungguhnya adalah menjadi versi yang terbaik bagi diri kita. Jadi menurut aku, self love-ku adalah aku harus kembali lagi ke versi aku yang dulu, badanku."

Dengan memahami kembali arti self love, seseorang pasti akan menyadari bahwa obesitas bukanlah hal baik. Karena itulah, dr. Mutiara akhirnya sukses menemukan versi terbaiknya. Ia kembali menjadi pribadi yang semangat, penuh motivasi, dan suka bersosialisasi. Tubuhnya pun semakin bugar, percaya diri, dan lebih bahagia.

6. Melawan Obesitas = Melawan Diri Sendiri


Melawan Obesitas = Melawan Diri Sendiri
Instagram/mutiarasangaji

Jatuh bangun menjalankan diet juga pernah dilalui dr. Mutiara. Ia pernah hanya mengonsumsi sayuran tanpa nasi karena ingin menurunkan berat badan secara cepat. Namun, kondisi itu malah membuat tubuhnya kelaparan dan susah untuk konsisten diet.

Perjuangan panjang ini sempat membuat dr, Mutiara menyerah. Tidak heran jika ia kini menganggap bahwa diet adalah proses melawan diri sendiri.

"Misalkan, ada teman menawarkan (makanan) dan aku, 'ya sudah besok saja (dietnya)'. Nah, itu berarti aku lemah sama diriku sendiri," beber dr. Mutiara. "Tapi, ketika aku memutuskan tidak nafsu makan melihat makanan apapun, akan enak melewatinya. Jadi bagaimana caranya kita melawan diri sendiri."

Dengan kemauan yang kuat, seseorang dapat lebih mudah melewati fase-fase sulit. Kendati demikian, dr. Mutiara berpesan agar kalian tidak terlalu memaksakan diri dan tetap menjalankan diet sesuai kebutuhan.

7. Pesan Untuk Para Pejuang Lawan Obesitas


Pesan Untuk Para Pejuang Lawan Obesitas
Instagram/mutiarasangaji

Menurut dr. Mutiara, ada tiga prinsip penting yang harus diperhatikan ketika sedang menurunkan berat badan. Pertama adalah motivasi yang kuat. Kedua, tetap konsisten dan yang terakhir adalah semangat. Motivasi kuat untuk hidup sehat membuat kita lebih semangat konsisten menjalankan diet. Dengan hidup sehat, maka kita akan semakin bahagia.

"Karena obesitas banyak menimbulkan gangguan mental seperti depresi, merasa tidak berharga, dan lain-lain. Ketika kita merasa seperti itu, pikirkan (bahwa) kita itu berhak bahagia. Setiap orang berhak bahagia dan menjadi versi terbaik dari diri kita. Jadi, (jangan) terlalu lama bersedih. Kita harus berubah, secepatnya," pungkas dr. Mutiara.

You can share this post!