Pada tahun 1888, terjadi kerusuhan di Hawaii. Kala itu muncul pemberontakan menentang keluarga kerajaan yang disinyalir merupakan provokasi dari pemerintah Amerika. Hanya dalam beberapa bulan, kerajaan digulingkan dan para anggota keluarga kerajaan diasingkan, termasuk Putri Ka'iulani.
Demi keselamatannya, Putri Ka'iulani yang masih berusia 13 tahun terpisah dari keluarga dan juga tanah airnya. Ia diungsikan ke Inggris. Di tempat tinggal barunya, Putri Ka'iulani menjalani pendidikan keras, termasuk pendidikan tanggung jawab dan harga diri. Putri Ka'iulani juga menemukan cintanya, seorang pemuda Inggris yang bersemangat dan berjiwa pemberontak, Clive Davis.
Setelah sang paman meninggal, Putri Ka'iulani menyadari bahwa ia harus mengakhiri ketidakadilan yang diderita keluarga dan warganya. Namun ia dilema antara cinta dan keinginannya untuk bertolak ke Amerika guna bertemu dengan Presiden Grover Cleveland dan membuktikan bahwa ia beserta warganya bukanlah orang biadab seperti yang dituduhkan pers Amerika.