Cici mengatakan bahwa trauma yang menimpa korban tindakan asusila itu akan seumur hidup, tidak bisa diukur dengan lamanya waktu hukuman.
- Tim WowKeren
- Senin, 21 April 2014 - 21:58 WIB
WowKeren - Presenter Cici Panda tidak menyangka terjadinya tindakan asusila terhadap anak-anak di Jakarta Internasional School (JIS). Awalnya, Panda justru mengira itu kejahatan asusila itu menimpa anak usia remaja.
"Gua dikasih tau temen gua, bayangan gua tadinya terjadi sama anak SMA atau SMP, ternyata anak umur 5 tahun sama petugas kebersihan, ya ampun," sesalnya. "Harusnya ketika seseorang membayar mahal untuk fasilitas masa nggak bisa diawasi keamanannya."
Panda sendiri mengaku sangat selektif saat menyekolahkan anaknya, Alika yang masih berusia 3,5 tahun. Panda juga mengaku mengajarkan sejak dini pada Alika agar bisa mencegah hal-hal yang bersifat asusila. "Gua sendiri khawatir, gua sekarang mengajarkan anak gua bahwa ada bagian tubuhnya yang nggak boleh disentuh siapapun," ujarnya.
Menurutnya, ancaman hukuman 15 tahun untuk tersangka tidaklah cukup, Panda sendiri mengaku ingin sang pelaku tindak asusila pada anak- anak dihukum seberat mungkin. "Trauma yang dialami si anak itu kan nggak bisa hilang 15 tahun. Gua pribadi pengen hukuman seumur hidup," lanjutnya. "Gua yakin semua orangtua yang tahu berita ini pasti marah, gua yakin kejadian ini bikin semua orangtua khawatir."
Alika yang baru berusia 3,5 tahun sudah mulai disekolahkan oleh Panda. Alasan Panda menyekolahkan anaknya sejak dini adalah untuk membangun karakter Alika sejak masih kecil agar nantinya dapat saling bertoleransi dalam pergaulan.
"Sekolahnya tidak berbasis agama, tapi berbasis pendidikan karakter. Karena buat gua, pendidikan agama paling penting itu dari rumah, dari orang tua. Di sekolah anak gua, mereka ngajarin semua tradisi agama-agama lain, seperti Natal, Lebaran, Waisak, semua mereka rayain," ucapnya.
Tujuan menyekolahkan Alika di sekolah yang mementingkan pendidikan karakter sangat penting untuk mengajarkan Alika bahwa nantinya perbedaan yang ada dalam bermasyarakat itu adalah sebuah hal yang wajar dan perlu ditoleransi. "Anak gua akhirnya lebih melihat banyak hal, jadi biar anak gua tahu kalo dia tinggal di masyarakat yang majemuk, yang punya banyak kepercayaan. Jadi gua ngasih pendidikan karakter ke anak, biar agama diajarin di rumah," pungkasnya.
(wk/)