Sumbangan Microsoft itu agar siswa sekolah di Amerika Serikat memiliki teknologi yang lebih baik karena selama 30 tahun dinilai tidak berkembang.
- Tim WowKeren
- Selasa, 29 April 2014 - 11:59 WIB
WowKeren - Microsoft mendonasikan uang sebesar Rp 11 triliun untuk membantu siswa sekolah di Amerika Serikat, membeli perangkat dibawah harga Rp 3 juta. Hal tersebut diumumkan Microsoft saat bersama dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pada Senin (28/4). Tujuannya adalah untuk membantu meningkatkan mutu teknologi di sekolah.
Kepala Teknologi Microsoft untuk pendidikan, Cameron Evans, mengatakan selama 30 tahun teknologi yang diterapkan di sekolah, belum ada perubahan yang signifikan. Seperti yang dilansir Cnet, Cameron menambahkan banyak jarak diantara siswa, antara yang mempunyai akses teknologi dan yang tidak.
Cameron memastikan hal tersebut adalah pekerjaan yang utama, apalagi jika membandingkan dengan kualitas teknologi untuk siswa di negara lain. Ia mencontohkan Singapura yang Kementerian Pendidikan di sana telah menghabiskan lebih dari Rp 30 triliun untuk teknologi di sekolah sejak periode akhir '90-an.
Sebenarnya penyokong dana untuk teknologi di Amerika Serikat cukup besar dalam membantu revolusi pendidikan. Pada 1997 Gedung Putih melaporkan perbincangan mengenai masalah ini dengan cukup serius, namun belum ada hasil yang jelas. Perdebatan tak berujung terus berlangsung mengenai keuntungan memperbaiki teknologi pendidikan atau mempekerjakan guru yang lebih berkualitas.
Lalu pada 2013 Gedung Putih mengumumkan rencana untuk menjamin 99 persen siswa memiliki akses internet kecepatan tinggi dalam jangka 5 tahun ke depan. Sekarang dengan dukungan dari Microsoft yang mencakup Acer, Asus, Dell, Fujitsu, HP, Lenovo, Panasonic, dan Toshiba dapat dibeli oleh siswa dengan harga yang jauh lebih murah.
Mengenai penjualan dengan harga murah, Apple pernah mempelopori menjual produknya dengan diskon besar-besaran untuk anak usia taman kanak-kanak. Tujuannya adalah untuk menanamkan loyalitas pengguna Apple sejak kanak-kanak. Mengenai hal tersebut Cameron mengatakan bahwa itu bukanlah tujuan Microsoft.
"Apakah dengan cara seperti itu maka pengguna akan terus memakai produk kami?" kata Cameron. "Tetapi memang tidak ada yang salah dengan cara itu, saya memakluminya."
(wk/)