Para pria hanya diperbolehkan berkunjung asal berperilaku baik dan mematuhi semua aturan para wanita.
- Tim WowKeren
- Senin, 14 September 2015 - 16:43 WIB
WowKeren - Sebuah pemandangan berbeda akan terlihat di desa kecil yang letaknya tak begitu jauh dari kota Nairobi, Kenya. Desa yang bernama Umoja tersebut hanya memiliki kaum wanita sebagai penghuninya tanpa adanya kaum pria yang melengkapi.
Umoja didirikan pada tahun 1990 oleh Rebecca Lolosoli yang menentang sistem patriarkal yang begitu melekat pada kaum Samburu di Kenya Utara. Dengan mendirikan desa Umoja, Rebecca ingin memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk para kaum wanita yang tertindas di tempat asal mereka.
Rebbeca yang merupakan anggota suku Samburu telah menjadi saksi kekejaman kaumnya terhadap para wanita. Mereka hanya bisa diam saat menjadi korban pemerkosaan, kawin paksa dan saat alat kelamin mereka dipotong.
Tak hanya itu saja, para wanita ini juga kerap menjadi pemuas nafsu para tentara Inggris yang berkemah di sekitar tempat tinggal mereka. Para suami juga kerap memukuli dan bertingkah kasar kepada istri mereka.
"Pria dilarang tinggal di desa, tetapi dapat berkunjung selama mereka berperilaku baik dan mematuhi aturan para wanita," ujar Rebecca kepada Satya Magazine. "Tujuan kami adalah meningkatkan mata pencarian para wanita khususnya bagi mereka yang ditinggalkan oleh keluarga. Kami juga ingin menyelamatkan dan merehabilitasi anak perempuan yang lari atau dibuang oleh keluarga mereka saat hamil atau dipaksa menikah."
Sementara itu, Umoja kini telah menjadi contoh kaum matriarkal yang sukses dan memberdayakan kaum wanita di desa lainnya. Mereka semua bekerja dengan tujuan bersama, yakni membersihkan masyarakat mereka dari praktek-praktek budaya negatif yang kerap menjadikan kaum wanita sebagai korban.
(wk/)