Main di film '3 Dara', Adipati Dolken belajar lebih menghargai perempuan.
- Tim WowKeren
- Kamis, 24 September 2015 - 09:41 WIB
WowKeren - Aktor muda yang sedang naik daun, Adipati Dolken, kembali membuktikan kemampuannya di bidang seni peran. Dalam film terbarunya "3 Dara", ia mengaku mendapatkan berbagai tantangan dan kesulitan.
Sebelumnya, Adipati memang telah menjajal berbagai macam karakter dalam film layar lebar. Bahkan perannya sebagai tokoh utama di film "Jenderal Soedirman" berhasil mendapatkan apresiasi yang tinggi. Banyak penonton yang memuji kemampuan aktingnya karena mampu menghidupkan sosok karakter yang diperankan tersebut.
Namun, dalam proyek terbarunya pria yang biasa disapa Dodot ini mendapatkan tantangan tidak biasa. Ia mendapat peran yang sangat jauh bertolak belakang dari kepribadiannya sebagai seorang laki-laki. Pada film tersebut Adipati harus berakting sebagai seorang pria yang dikutuk menjadi wanita.
Adipati Dolken mengaku, penghayatan menjadi seorang perempuan merupakan kesulitan utama bermain dalam film ini. Ia dipaksa harus bisa meniru gerak-gerik perempuan yang feminin.
"Waktu baca skenario, aku awalnya ketawa-tawa sendiri dan bingung gimana caranya bisa jadi perempuan dan jadi perempuan itu nggak mudah juga ya, karena kita harus mengubah gerak-gerik, terus lebih sensitif terhadap hal-hal kecil dan body language juga susah banget," ujar Adipati. "Tapi pas di lokasi syuting ya mau nggak mau sudah harus bisa memerankan seorang pria yang memiliki kepribadian seorang perempuan meskipun susah banget."
Di samping itu, keterlibatannya di film "3 Dara" membuat Adipati bisa melihat dan memahami serta lebih menghargai sifat dan karakteristik perempuan. "Main film ini gue sebagai seorang pria jadi lebih tau bagaimana menghargai sifat dan kesetaraan gender perempuan karena menjadi seorang perempuan ga mudah," ujarnya. "Mereka mengalami fase PMS, melahirkan dan menopause karenanya sebagai seorang laki-laki harus bisa lebih menghargai hal tersebut."
Dalam film ini, Adipati Dolken berperan sebagai Djay, seorang Creative Director yang bekerja untuk mengeksplor sensualitas wanita demi kepentingan produk-produk perusahaannya. Selain itu, Djay juga sosok yang sangat takut pada komitmen. Kendati bukan pria playboy, tetapi Djay kerapkali memandang sebelah mata terhadap wanita. Sampai akhirnya, ia mendapat kutukan yang membuatnya mampu merasakan bagaimana jadi wanita, termasuk rasa sensitif saat PMS.
(wk/)