Mendekati Batas Waktu, Keluarga Sandera Abu Sayyaf Makin Khawatir
Dunia

Keluarga kapten kapal, Peter Townsen mengaku sangat khawatir dan berharap putranya segera bebas.

WowKeren - Penyanderaan 10 WNI di Filipina masih menjadi sorotan publik. Kesepuluh WNI itu diculik oleh kelompok Abu Sayyaf saat Kapal Brahma 12 dari Indonesia yang mengangkut batu bara melintas di perairan negara itu.

Kelompok Abu Sayyaf diketahui meminta tebusan sebanyak Rp 15 miliar dan memberikan batas waktu hingga 8 April. Mendekati deadline yang ditentukan, tak ayal pihak keluargapun semakin harap-harap cemas.

Hal tersebut seperti yang diungkap oleh, Sopitje Salemburung ibu dari kapten kapal, Peter Townsen. Apalagi, ia mendengar kabar jika tuntutan kelompok Abu Sayyaf tidak dipenuhi, anaknya bisa dieksekusi.


"Harapan saya sebagai ibu tentunya pemerintah dan juga perusahaan tempat anak saya bekerja untuk bisa menyelesaikan negoisasi dengan teroris dan anak saya serta teman-teman yang lain bisa bebas," ujar Sopitje dilansir dari Tempo. "Terus terang kami merasa khawatir. Apalagi ada media lokal yang sebut anak kami akan dieksekusi. Tolong keluarkan anak kami dari sarang penyandera."

Lebih lanjut, sang ayah, Charlos Barahama mengungkap jika ia selalu menjalin komunikasi dengan pihak perusahaan. Mereka berjanji akan berupaya membebaskan anaknya dan awak kapal yang lain. Charlos berharap anaknya bisa dibebaskan dengan cara yang baik sehingga bisa pulang dengan selamat.

"Katanya sudah dinegoisasikan," ucap Charlos. "Tapi saya mohon agar negoisasinya berjalan dengan baik dan tidak ada persoalan yang membuat anak kami justru mengalami hal yang tidak diinginkan."

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!