Direktur Artistik Semaine de la Critique Cannes Charles Tesson pun memuji film 'Prenjak'.
- Tim WowKeren
- Jumat, 20 Mei 2016 - 14:49 WIB
WowKeren - Untuk pertama kalinya, film Indonesia diakui di ajang Cannes Film Festival 2016. Film "Prenjak" yang mewarnai Cannes dengan logat medok khas Jawanya berhasil meraih penghargaan di ajang bergengsi perfilman dunia tersebut.
Tak tanggung-tanggung, "Prenjak" berhasil memenangkan kategori La Semaine de la Critique (Pekan Kritikus) sebagai Film Pendek Terbaik. Bahkan Direktur Artistik Semaine de la Critique Cannes, Charles Tesson pun memuji kepuitisan "Prenjak".
"Sebuah film dengan kedalaman puitik yang mengejutkan. Prenjak karya Wregas Bhanuteja, adalah film yang kelam dan bengal, tentang bagaimana mencari nafkah itu sama harganya dengan sekadar permainan korek api," ungkap Tesson pada BBC Indonesia pada suatu kesempatan.
Wregas Bhanuteja, sutradara "Prenjak" mengumumkan kemenangannya tersebut lewat postingan di Twitternya, @Wregas. Dalam keterangan fotonya tersebut ia menuliskan, "Prenjak mendapat penghargaan sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique Festival de Cannes 2016, "
Prenjak mendapart penghargaan sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique Festival de Cannes 2016 pic.twitter.com/uUatdgA5g9
— Wregas Bhanuteja (@Wregas) 20 Mei 2016
Ia juga mengungkapkan kesannya dapat memenangkan kategori tersebut. "Sungguh tak disangka. Saya merasa bahwa ini adalah energi yang sangat besar sekali bagi saya. Saya berharap agar api ini tetap menyala. Dan ketika saya pulang ke Indonesia, saya akan mulai membuat film lagi dan lagi," imbuh sutradara muda tersebut pada BBC Indonesia.
Seperti yang tertera pada situs resmi Critics' Week, "Prenjak" berhasil meraih penghargaan Leica Cine Discovery Prize untuk Film Pendek Terbaik, sehingga berhak menerima hadiah uang tunai sebesar 4.000 Euro (atau setara Rp 61 juta). Selain itu, "Prenjak" juga berhasil mengalahkan sembilan film pendek lain dari berbagai negara.
"Prenjak" memang memiliki alur cerita yang tak biasa sehingga mampu menarik perhatian. Film pendek berdurasi 13 menit ini mengangkat kisah perempuan di Yogyakarta pada era 80-an yang menjual korek api seharga Rp 10 ribu dengan bonus mempertontonkan tubuhnya pada pembelinya.
(wk/)