Jumlah Pasien COVID-19 Terus Menurun, Bagaimana Nasib Wisma Atlet Pasca Pandemi Dinyatakan Selesai?
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Per Kamis (24/3) hari ini, jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran berkurang sebanyak 79 orang dibanding hari sebelumnya.

WowKeren - Jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran terus menurun. Per Kamis (24/3) hari ini, jumlah pasien COVID-19 di Wisma Atlet berkurang sebanyak 79 orang dibanding hari sebelumnya.

"Pasien rawat inap terkonfirmasi positif (COVID-19) di Tower 4, 5, 6, dan 7 sebanyak 814 orang. Sementara jumlah semula (Rabu) 893 orang. Pasien rawat inap berkurang 79 orang," ungkap Pegawai Harian Lepas (PHL) Penanganan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I Septiono Prayogo.

Dengan total kapasitas tempat tidur mencapai 8.299 unit, tingkat keterisian tempat tidur alias BOR di Wisma Atlet Kemayoran kini hanya mencapai 9,8 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding batas aman BOR yang ditetapkan oleh WHO sebesar 60 persen.

Lantas, dengan semakin menurunnya jumlah pasien bagaimana nasib Wisma Atlet setelah pandemi COVID-19 dinyatakan selesai? Koordinator Wisma Atlet Mayjen TNI Budiman menjelaskan bawha pihaknya hingga kini masih terus menunggu arahan dari pemerintah pusat.



"Apakah RSDC tetap ada? RSDC tergantung pada kebutuhan dan perintah supra-sistem. Kita juga ingin mengetahui bergulir ke mana pandemi ini. Karena tidak ada yang pasti, karena virus ini kan masih belum jelas," paparnya dalam Peringatan 2 Tahun RSDC Wisma Atlet, Rabu (23/3).

Menurut Budiman, RSDC Wisma Atlet sejauh ini masih digunakan sebagai tempat karantina atau isolasi untuk pasien COVID-19 yang bergejala ringan dan sedang. Wisma Atlet juga digunakan sebagai tempat isolasi bagi mereka yang tidak memiliki rumah yang mewadahi untuk isolasi mandiri.

Berdasarkan pembahasan sementara ini, tutur Budiman, RSDC Wisma Atlet akan difungsikan sebagai tempat perlindungan korban nuklir dan bencana alam atau pun non-alam lainnya dalam beberapa tahun ke depan. Melihat kondisi global saat ini, Budiman menyebut ada peluang perang asimetris atau perang menggunakan senjata biologis.

"Kita diharapkan mungkin ke depan RSDC ini bisa menjadi prototipe untuk pelayanan korban-korban nuklir biologi dan kimia. Karena konsep ancaman ke depan, kita melihat dengan adanya tantangan perang masa depan tentu saja bukan hanya perang fisik tapi juga ada yang kita sebut proxy war," tukasnya.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts