Kementan belum lama ini menyebut bahwa Indonesia tidak memiliki cadangan protein nasional seperti ayam dan telur. Sebagaimana diketahui, ayam dan telur merupakan protein hewani yang digemari masyarakat Indonesia.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 09 Juni 2022 - 17:44 WIB
WowKeren - Protein hewani ayam dan telur menjadi salah satu kesukaan masyarakat Indonesia. Selain mudah ditemukan di pasaran, harganya pun relatif terjangkau bagi setiap kalangan.
Akan tetapi, belakangan ini harga bahan pokok termasuk ayam dan telur mengalami kenaikan. Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah mengungkapkan bahwa Indonesia tidak memiliki cadangan protein nasional.
Menurut Nasrullah, apabila terjadi Kejadian Luar Biasa atau outbreak terhadap ayam, maka Indonesia tidak memiliki cadangan daging ayam dan telur. Hal ini disampaikan Nasrullah dalam acara Penyerahan Penetapan Penghentian Perkara Kemitraan di Sektor Peternakan Ayam di KPPU Jakarta.
"Sampai hari ini, cadangan protein nasional tidak ada, nol. Kalau ada apa-apa outbreak ayam saat ini, kita tidak punya cadangan dari ayam dan telur," ujar Nasrullah, Kamis (9/6).
Lebih lanjut, Nasrullah menilai terdapat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menanganan hal tersebut. Akan tetapi, mereka disebut tidak memiliki amunisi. Ia lantas menyarankan agar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dapat mendorong BUMN dan pemerintah agat hadir di tengah persoalan yang ada.
Di sisi lain, kata Nasrullah, saat para peternak melakukan pemusnahan pada telur yang surplus, kehadiran pemerintah untuk mendukung hal tersebut belum ada. Padahal, menurutnya, pencegahan itu dilakukan agar harga telur di pasar tidak anjlok.
"Pemusnahan telur-telur sebelum menetas, tapi itu adalah salah satu cara yang menurut kami bisa dilakukan karena kehadiran pemerintah saat surplus itu belum hadir," ungkap Nasrullah.
Nasrullah kemudian menilai bahwa protein ayam dan telur berguna untuk mencerdaskan bangsa serta paling tidak terpenuhi sebanyak 20 hingga 30 persen. Sedangkan berdasarkan perhitungannya, surplus telur minimal 5 persen dan maksimal 10 persen.
"Surplus tidak cukup hanya segitu, kita rawan, sangat rawan," beber Nasrullah. "Kami tidak punya instrumen dan tidak dibenarkan, yang perlu disuarakan bersama sehingga kondisi ini utamanya stabilisasi harga."
Nasrullah kemudian menambahkan bahwa adanya kemitraan yang baik bersama pemerintah dapat membuat cadangan protein nasional mencukupi. Maka dari itu, pemerintah betul-betul diharapkan bisa menjadi mitra peternak.
(wk/tiar)