Pengurus pesantren Khilafatul Muslimin Bekasi kini memilih memulangkan para santrinya usai polemik spanduk penolakan kegiatan kelompok tersebut di wilayah sekitar.
- Amelia Nur Fatimah
- Jumat, 17 Juni 2022 - 11:30 WIB
WowKeren - Pesantren Khilafatul Muslimin di Pekayon, Bekasi Selatan, Kota Bekasi mulai memulangkan santrinya sejak Kamis (16/6). Sebelumnya diketahui, muncul spanduk penolakan kegiatan Khilafatul Muslimin di wilayah pesantren tersebut. Pemulangan ini dilakukan setelah pengelola bertemu dengan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) di Bekasi Selatan, Kamis pagi.
"Atas dasar inisiatif saya sendiri untuk kondusif, kita pulangkan diawali dengan santri terdekat," kata Pimpinan Khilafatul Muslimin Bekasi, Abu Salma pada Kamis (16/6) siang.
Jumlah santri di Pesantren Ukhuwwah Islamiyah milik Khilafatul Muslimin di Bekasi tersebut mencapai 200 orang. Terdiri dari berbagai jenjang versi pesantren, mulai tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Ia menyebut, santri paling jauh ada dari Sumatera, Lampung hingga Jawa Timur.
Tak hanya pengosongan, plang dan banner pun turut dicabut. "Untuk sementara pondok dikosongkan, plang dicabut, banner dicabut," kata Abu Salma.
Berdasarkan hasil pertemuan dengan unsur muspika setempat, pengelola lembaga pendidikan milik Khilafatul Muslimin itu akan memperbaiki legalitas sesuai dengan arahan aparat. Jika selesai, Abu Salma menyebut aktivitas akan kembali seperti semula.
"Pemerintah akan membantu melegalkan lebih sempurna legalitas di pondok kami," ungkapnya.
Legalitas yang dimaksud yaitu memperbaiki perizinan sesuai dengan aturan di Kementerian Agama. Ia menyebut, ke depan kurikulum pendidikan yang diajarkan Khilafatul Muslimin akan sama seperti pesantren tradisional.
"Tidak berjenjang, istilahnya tahfiz," kata Abu Salma yang menyebut masih akan menggunakan embel-embel khilafah.
Sebelumnya diketahui muncul spanduk penolakan adanya Khilafatul Muslimin di sekitar pondok pesantren mereka, di wilayah Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. bu Salma menduga spanduk penolakan itu dipasang oleh orang-orang yang berasal dari luar lingkungan setempat. Menurutnya, pihak rukun tetangga atau RT setempat justru tidak mengetahui siapa yang memasang spanduk itu.
Abu Salma menyebut pihaknya tidak akan mencopot spanduk tersebut dan lebih memilih berdiam diri saja. Djhonny menyatakan pihaknya siap mengikuti arahan dari aparat.
"Ayo duduk bareng, kita islah, kenapa dipasang begini, kita sesama muslim, itu kan adu domba. Kalau tidak menimbulkan kericuhan, kegaduhan, dan hal-hal yang dikhawatirkan, kami diam diri saja, tinggal aparat kalau (spanduk) mau dicopot ya terserah," pungkasnya.
(wk/amel)