Setelah kecelakaan maut truk Pertamina di Cibubur menewaskan 11 orang, muncul petisi yang menuntut agar lampu merah CBD ditutup. Kini lampu merah CBD pun telah dinonaktifkan.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 19 Juli 2022 - 14:07 WIB
WowKeren - Dalam kecelakaan maut truk Pertamina yang menabrak sejumlah kendaraan di Jalan Alternatif Cibubur, CBD, Bekasi, menewaskan 11 orang. Setelah kecelakaan maut ini, muncul sebuah petisi menuntut agar lampu merah di CBD ditutup.
Kini, tampaknya lampu merah CBD resmi ditutup sementara atau tidak difungsikan setelah kecelakaan maut yang berlangsung pada Senin (18/7) kemarin. Hal ini disampaikan oleh Teguh Indrianto selaku Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi.
"Untuk penyebab masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), namun sementara simpang ditutup dan TL dinonaktifkan," ujar Teguh dalam keterangannya, Selasa (19/7).
Sementara mengenai petisi yang menuntut agar lampu merah CBD ditutup itu diketahui telah mendapatkan puluhan ribu tanda tangan atau pendukung. Adapun petisi ini dibuat sebagai bentuk penolakan atas penempatan posisi lampu merah yang dianggap tidak sesuai dengan kontur jalan yang menurun.
Di sisi lain, KNKT diketahui memastikan untuk melakukan investigasi terhadap kecelakaan maut truk Pertamina itu. Senior Investigator KNKT Indonesia Ahmad Wildan mengatakan bahwa investigasi akan dimulai untuk mencari tahu penyebab kecelakaan.
"Mulai hari ini, tim investigator akan melakukan pemeriksaan kendaraan, jalan, traffic light, dan pengemudi serta beberapa saksi," tutur Wildan kepada Kompas.com, Selasa (19/7).
Lebih lanjut, Wildan menerangkan bahwa proses investigasi terhadap kecelakaan tersebut nantinya akan dibantu oleh Dishub Kota Bekasi dan juga pihak kepolisian. Ia sebelumnya mengatakan bahwa investigasi penyebab kecelakaan tersebut masih bersifat kualitatif dan belum dapat dijelaskan secara saintifik.
"Ada yang menyatakan remnya blong, ada yang menyatakan turunan panjang, dan di sini sering terjadi kecelakaan, itu masih kualitatif," jelas Wildan. "Jadi itu yang nanti kami analisis, kami hitung secara detil, sehingga secara saintifik bisa menjelaskan bagaimana kecelakaan ini terjadi."
Di samping itu, Wildan juga memprediksi bahwa proses investigasi akan berlangsung selama satu hingga dua hari. Meski begitu, ia berharap agar proses investigasi bisa cepat selesai. "Mungkin, 1-2 hari sudah punya gambaran apa yang terjadi, karena mengukur jalan juga mudah," tutup Wildan.
(wk/tiar)