Emmanuel Eboué, mantan bintang Arsenal, kini menghadapi kesulitan hidup setelah perceraian dan kehilangan harta.
- Jumat, 01 Mei 2026 - 10:37 WIB
WowKeren - Emmanuel Eboué, mantan pemain Arsenal yang pernah dicintai banyak penggemar, kini mengalami masa sulit setelah kehilangan hampir seluruh kekayaannya akibat perceraian dan berbagai masalah pribadi. Menurut laporan dari media Inggris, Daily Mail, Eboué yang pernah mengumpulkan kekayaan sebesar 20 juta poundsterling (sekitar 401 miliar rupiah) kini terpaksa menjual hampir semua asetnya.
Selama karirnya di Arsenal, Eboué telah memainkan lebih dari 200 pertandingan dan dikenal sebagai sosok yang unik, sering kali mendapatkan kritik dan dukungan bersamaan dari para penggemar. Namun, segala sesuatu berubah drastis pada tahun 2016 ketika ia menghadapi masalah keuangan yang serius dengan mantan agennya. Akibat dari perselisihan ini, ia dijatuhi hukuman larangan bermain selama satu tahun oleh FIFA karena utang sebesar 790 ribu poundsterling.
Dampak dari larangan tersebut membuat Eboué tidak bisa berpartisipasi dalam aktivitas tim, dan karirnya sebagai pemain sepak bola pun terpaksa berakhir. Mantan manajernya, Sam Allardyce, menekankan bahwa situasi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Eboué sendiri, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk berlatih dan bertanding.
Setelah karirnya berakhir, kehidupan pribadi Eboué juga mengalami kemunduran yang signifikan. Selama proses perceraian, ia kehilangan sebagian besar harta yang dimiliki, termasuk rumah dan mobil yang ada di Inggris. Ia juga mengalami dampak psikologis yang berat, sampai-sampai merasa sulit untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang normal.
Salah satu aspek yang paling menyakitkan bagi Eboué adalah terputusnya hubungan dengan keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa ia tidak dapat berhubungan dengan putranya, Mathis, yang kini sedang berlatih di tim junior Chelsea, selama hampir lima tahun. “Yang paling menyakitkan adalah tidak bisa berada di samping anak saya,” ujarnya.
Meski begitu, saat ini Eboué berusaha untuk bangkit dengan mengajar pemain muda di Pantai Gading. Ia menggunakan pengalaman hidupnya untuk memberikan nasihat yang realistis agar generasi penerus tidak mengulangi kesalahan yang sama. Selain itu, ia tetap terlibat dalam dunia sepak bola melalui aktivitas di Konfederasi Sepak Bola Afrika.
(wk/timw)