Krisis tersebut bisa terjadi apabila user Facebook dan Twitter terlalu sering mengunggah status yang berbeda setiap hari demi memperoleh kepuasan pribadi jika mendapat reaksi dari orang lain.
- Tim WowKeren
- Senin, 01 Agustus 2011 - 11:41 WIB
WowKeren - Lebih dari ratusan juta orang di seluruh dunia telah mengakses jejaring sosial Facebook dan microblogging Twitter. Namun jika tak hati-hati, para user bisa menuai pengaruh buruk dari dua media sosial tersebut.
Menurut Baroness Greenfield, profesor Farmakologi di Oxford University, pertemanan lewat dunia maya melalui Facebook dan Twitter bisa menciptakan masalah krisis identitas. User yang kerap berganti status hingga hitungan menit diyakini memiliki pikiran seperti anak-anak yang selalu ingin mendapatkan reaksi bila melakukan sesuatu.
"Yang membuatku peduli adalah banyaknya hal dangkal yang dibicarakan di Twitter. "Kenapa seseorang harus tertarik pada status orang lain yang mengatakan kalau dia telah sarapan? Ini mengingatkan pada seorang anak kecil yang berkata, 'Lihatlah aku, ibu, aku melakukan ini. Lihat aku, ibu, aku melakukan itu'," ujar Profesor Green Field yang sebelumnya menjadi direktur bidang penelitian tubuh di Royal Institution tersebut. "Hal ini bisa terjadi karena mereka mengalami masalah krisis identitas."
Hal ini juga terjadi di Facebook, Profesor Greenfield merasa kalau masyarakat kini menganut gaya selebriti yang ingin kegiatannya diamati dan dikagumi orang lain. "Implikasi dari masalah ini adalah, masyarakat lebih khawatir dengan yang dipikirkan orang lain tentang mereka ketimbang pemikiran mereka sendiri," ujarnya.
Efek negatif lainnya, masyarakat yang terlalu sering menggunakan Facebook dan Twitter bisa mengalami efek kecanduan akan kebutuhan untuk dipuaskan dan berkurang tingkat konsentrasi mereka. Selain itu, kemampuan non verbal seperti bertatap mata saat percakapan langsung juga akan melemah.
Senada dengan Profesor Greenfield, pengarang sekaligus ahli literatur Sue Palmer menyakini kalau para gadis punya pandangan bahwa mereka adalah komoditas yang dijual dan harus menarik bagi orang lain di Facebook. "Orang-orang dulunya punya lukisan potret namun kini kita bisa mengurangi atau menambahkan efek pada foto kita secara online. Hal itu seperti menjadi bintang dari acara reality TV yang kamu kreasikan dan sebarkan ke seluruh dunia," kata Sue.
(wk/)