Dengan menggunakan alat scan otak FMRI, peneliti di Washington University melakukan tes untuk membaca sinyal ketika subyek menebak jawaban dari pertanyaan yang diujikan.
- Tim WowKeren
- Rabu, 24 Agustus 2011 - 14:04 WIB
WowKeren - Suatu saat, bukan hanya paranormal saja yang bisa meramalkan masa depan. Setiap manusia bahkan bisa memiliki kemampuan tersebut walaupun hanya dalam gambaran kecil.
Konsep itulah yang ingin dibuktikan oleh peneliti dari Washington University di St. Louis. Pihak peneliti kini tengah berkonsentrasi untuk memeriksa sistem dopamine otak tengah yang menyediakan sinyal pada bagian keseluruhan apabila terjadi peristiwa yang tak diharapkan.
Berbekal alat scan otak FMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), ilmuwan melakukan tes pada sukarelawan muda. Alat yang mengandung unsur magnet itu membaca sinyal ketika subyek mencoba membuat pilihan dan memberikan respon saat jawaban yang mereka pilih itu benar atau salah.
Namun sebelum melakukan pemindaian, para relawan itu diminta menonton film yang menayangkan aktivitas sehari-hari seperti mencuci mobil, bermain model Lego ataupun mencuci baju. Namun film tersebut tak diputar sampai selesai.
Partisipan kemudian diminta memprediksi apa yang terjadi lima detik kemudian dalam lanjutan film. Mereka memberikan jawaban dengan memilih sebuah gambar yang memperlihatkan kelanjutan peristiwa berikutnya.
Hasilnya, 90 persen mampu memprediksi aktivitas lanjutan dalam peristiwa di film tersebut. Partisipan kurang dari 80 persen dinilai salah memprediksi. Sementara sisanya merupakan partisipan yang ragu-ragu pada prediksi mereka.
"Sangat bernilai jika kita mampu kabur ketika seekor Singa menyergapmu tapi akan lebih bernilai jika kita bisa tahu cara kabur sebelum singa itu melompat," kata pimpinan riset, Jeffrey Zacks, mengibaratkan tentang proyek ini. "Sangat menguntungkan jika bisa melihat sedikit lebih jauh ke depan."
Namun, meramal dengan sistem ini hanya bisa dilakukan untuk peristiwa sehari-hari. Meski begitu penelitian tim dari Washington University ini juga bisa diterapkan untuk mengetahui gejala awal dari penderita penyakit seperti schizophrenia, parkinson dan alzheimer.
(wk/)