Hotel Lastel menerima penginapan untuk mayat sambil menunggu giliran dikremasi di krematorium kota.
- Tim WowKeren
- Rabu, 14 September 2011 - 10:40 WIB
WowKeren - Hotel selalu identik dengan tempat yang nyaman untuk beristirahat bagi orang-orang yang membutuhkan privasi. Ternyata, orang yang sudah meninggal pun membutuhkan penginapan.
Seperti yang terdapat di Jepang. Hotel Lastel yang terdapat di pinggiran kota Yokohama itu hanya dikhususkan untuk mayat.
Lastel menjadi tempat menyimpan jenazah dalam peti mati. Layaknya hotel, pihak Lastel memberikan pelayanan untuk kenyamanan mayat, yaitu menaruh dalam peti mati berpendingin dan ditempatkan dalam ruangan yang juga ditata dengan apik. Keluarga atau kerabat almarhum pun bisa melayatnya setiap waktu.
Saat ini, hotel milik Teramura itu memiliki 18 tamu check in yang semuanya sudah menjadi mayat. Biasanya, pihak keluarga mengeluarkan biaya sebesar 12 ribu Yen atau sekitar Rp 1,3 juta demi menginapkan jenazah sambil menunggu giliran untuk dikremasi pada krematorium di Yokohama.
Hal ini dilakukan karena krematorium kota selalu over kapasitas. Sehingga, harus antre beberapa hari bagi jenazah untuk mendapat giliran.
Di Yokohama, setidaknya jenazah harus menunggu empat hari untuk mendapat giliran di krematorium. "Jika harus diinapkan di rumah, tentu sangat merepotkan," ujar Teramura.
Hotel Lastel didesain khusus sehingga setiap jenazah memiliki kamar sendiri dan masing-masing "tamu" yang sudah dibekukan tetap berada di peti mati. Kamar hotel jenazah ini jauh lebih dingin. Selama menginap di hotel, para pelayat dipersilahkan datang menjenguk melalui sebuah bingkai jendela berbentuk kotak bunga..
Rupanya, bisnis hotel untuk mayat ini yang tergolong unik dan langka ini menjadi tren di Jepang. Pasalnya, tingkat kematian di Negeri Sakura itu terus meningkat. Tahun lalu, menurut catatan pemerintah, sebanyak 1,2 juta orang meninggal dunia. Tingkat kematian diperkirakan akan meningkat menjadi 1,66 juta pada 2040 ketika generasi Baby Boomers Jepang berakhir.
Bisnis ini wajar berkembang pesat mengingat pentingnya upacara kematian bagi masyarakat Jepang. Biasanya, masyarakat di sana membayar 1,2 juta Yen atau sekitar Rp 134 juta untuk biaya bunga, guci, peti mati dan pemakaman. Jumlah tersebut dua kali lipat dari yang dikeluarkan orang di Amerika Serikat.
Berikut pemandangan di hotel Lastel:
(wk/)