"Pemain bisa mati jika dipaksakan terus bermain dalam kompetisi sepanjang itu," Robertho Rouw.
- Tim WowKeren
- Sabtu, 01 Oktober 2011 - 09:58 WIB
WowKeren - Protes terkait keputusan PSSI yang menetapkan 24 tim peserta Liga Indonesia level masih terus bergulir, bahkan dari tubuh PSSI sendiri. Kali ini anggota Komite Eksekutif PSSI, Robertho Rouw, yang angkat bicara.
Robertho mengaku kecewa atas sikap PSSI yang tetap bersikukuh mempertahankan 24 tim sebagai peserta Liga Super Indonesia (LSI) musim 2011/2012. Bahkan ia menuding adanya indikasi kepentingan bisnis dibalik keputusan tersebut.
"Mereka hanya berpikir soal bisnis. Dengan pertandingan banyak, maka banyak yang bisa dijual dan menguntungkan mereka," ungkapnya disela-sela rapat Komite Eksekutif PSSI di Hotel Sahid, Jumat (30 September) malam. "Pemain bisa mati jika dipaksakan terus bermain dalam kompetisi sepanjang itu."
Dengan jumlah 24 peserta berarti setiap klub memainkan 46 laga selama semusim atau hampir seminggu sekali. Ini akan menyebabkan kondisi fisik pemain terus terkuras. PSSI juga dinilai telah melupakan kemampuan klub yang harus mengeluarkan dana lebih banyak karena persentase pertandingan yang bertambah.
Ia mengatakan, PSSI kini lebih mementingkan keuntungan daripada memperbaiki kualitas pemain. Namun, ia mengaku tetap kepada komitmennya tidak akan keluar dari statuta PSSI.
"Lihat saja nanti di dalam (rapat). Pasti yang dibicarakan soal bisnis dan keuntungan. Saya dan anggota Exco lainnya bersikap tidak akan keluar dari aturan," tegas Robertho. "Bagaimana mungkin kita hanya diam saja sementara klub bersusah payah dan pemain mati-matian bertanding."
Sementara anggota Exco lainnya, La Nyala Mataliti, menilai keputusan tersebut masih sebatas wacana. Karena hingga kini surat keputusan (SK) terkait peserta kompetisi kasta tertinggi di Indonesia ini belum resmi dikeluarkan PSSI.
"Ya kita tunggu SK, jadi ini semua masih wacana, jadi belum tahu," ungkapnya. "Saya tetap beranggapan bahwa ini melanggar statuta. Tadi saya sampaikan juga di forum, tapi tidak digubris. Ya sudah, saya tidak ada urusan."
(wk/)