Uji coba menggunakan aplikasi inovatif e-doctor dan e-education itu memungkinkan seseorang berkonsultasi dengan dokter ataupun mengajar jarak jauh via video.
- Tim WowKeren
- Senin, 24 Oktober 2011 - 12:40 WIB
WowKeren - Nokia Siemens Networks (NSN) yang merupakan salah satu pemain di industri jaringan telekomunikasi melakukan uji coba Long Term Evolution (LTE) bersama salah satu operator telekomunikasi seluler di Tanah Air, Indosat. Keduanya menjalankan percobaan lapangan LTE di pita frekuensi 1800MHz.
LTE merupakan teknologi jaringan telekomunikasi generasi keempat (4G) yang akan diadopsi di seluruh dunia dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan jaringan ini pernah disebut-sebut bakal dioperasikan dalam produk Apple, iPhone 5.
Uji coba berbasis teknologi FDD-LTE (frequency division duplex) ini menunjukkan kesiapan jaringan operator untuk menggunakan kembali pita frekuensi 1800MHz yang sudah ada. Adapun uji coba dilakukan di Surabaya dan Denpasar, Bali.
Selama uji coba, NSN dan Indosat menggunakan aplikasi inovatif seperti e-doctor dan e-education. Selain itu, streaming video 3D dan pengintaian kamera CCTV juga didemonstrasikan.
Dengan jaringan 4G ini memungkinkan seseorang bisa berkonsultasi ke dokter jarak jauh melalui konferensi video. Teknologi ini juga bisa dimanfaatkan dosen untuk mengajar mahasiswanya.
"LTE akan menghadirkan komunikasi generasi baru ke Indonesia, Director and Chief Technology Officer Indosat, Hans Moritz. "Nokia Siemens Networks merupakan salah satu provider yang tepat mengingat mampu menyediakan LTE pada pita frekuensi tersebut."
Moritz menyebutkan, dukungan yang sangat baik pada teknologi yang disediakan Nokia Siemens Networks akan membantu pihaknya memanfaatkan kembali pita frekuensi 1800MHz untuk layanan LTE di masa depan. Pita frekuensi tersebut saat ini digunakan untuk layanan 2G.
Sementara Head of the Customer Team Nokia Siemens Networks, Harald Preiss, mengatakan bahwa dengan adanya LTE maka operator seperti Indosat dapat menawarkan throughput yang lebih tinggi yaitu hingga 100Mbps dengan latensi atau keterlambatan hanya 10 milidetik. "Yang lebih penting, operator akan mampu mengurangi biaya per bit hingga 50 persen," ujar Harald.
(wk/)