Julia Hill tinggal di atas pohon Redwood dengan ketinggian 60 meter untuk menentang proyek deforestasi yang akan dilakukan.
- Tim WowKeren
- Kamis, 24 Oktober 2013 - 09:18 WIB
WowKeren - Hal yang dicintai dapat membuat seseorang melakukan apapun. Itulah yang dilakukan oleh ahli lingkungan asal Amerika, Julia Hill. Kecintaannya terhadap lingkungan membuatnya rela tinggal di atas sebuah pohon berusia 1500 tahun selama 738 hari.
Bersama komunitas pecinta lingkungan, wanita yang pernah mengalami patah tulang akibat kecelakaan ini melakukan aksi menentang rencana deforestasi hutan Redwood di California utara. Hal itu ia lakukan dengan tinggal di atas pohon kayu Redwood yang ia beri nama Luna.
Tanpa berbekal pengalaman apa-apa sebelumnya, Julia berhasil bertahan 3 hari di atas pohon. Namun tindakan tersebut tidak menghentikan tindakan Maxxam Corporation selaku perusahaan yang bersangkutan. Ia pun melanjutkan aksinya tersebut hingga 738 hari, kurang lebih 2 tahun.
Selama aksinya tersebut, Julia harus berhadapan dengan berbagai kesulitan seperti medan yang tidak biasa baginya. Para pekerja perusahaan tak jarang menyemprotkan cairan lada untuk menghentikan aksinya. Ia pun harus memanjat setinggi 60 meter untuk melindungi dirinya.
Selang 2 tahun, pihak perusahaan akhirnya menyatakan mundur dari proyek sehingga Julia pun menghentikan aksinya. Ia mengaku pengalaman tersebut sangat berharga baginya.
"Aku meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagiku. Dia guru dan sahabat terbaikku," ujar wanita ini. "Meski aku meninggalkan pohon namun masih ada bagian diriku yang hanya dengan menutup mata maka aku sudah berada di batang pohon itu."
Julia pun mengatakan merasa berat untuk kembali ke kehidupan sosial. Meskipun kembali ke darat adalah sesuatu yang membahagiakan, ia mengaku akan menghadapi beberapa hal yang membuatnya kesulitan beradaptasi.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupku setelah ini. Semuanya sudah banyak berubah," imbuh Julia. "Ada banyak perasaan yang tertuang ketika aku kembali menginjakkan kaki ke bumi. Menakjubkan tapi sekaligus menyedihkan karena harus berpisah dengannya."
Sementara itu, perusahaan Maxxam membayar USD 50 ribu (Rp 563 juta) sebagai ganti rugi tidak terlaksananya proyek deforestasi. Uang tersebut kemudian disumbangkan untuk sekolah yang mengadakan penelitian tentang penebangan kayu.
(wk/)