Nilai kemampuan berbicara bayi berusia 0-3 tahun yang mainan geme di smartphone touch screen lebih rendah dibanding anak lain.
- Tim WowKeren
- Selasa, 06 Mei 2014 - 16:09 WIB
WowKeren - Perkembangan bayi adalah hal yang paling ditunggu-tunggu sang ibu. Namun beberapa hal dapat menghambat perkembangan bayi, dan hal tersebut tanpa disadari oleh sang ibu sendiri. Penelitian terkini menyebutkan smartphone dapat menghambat perkembangan bicara pada anak.
Penelitian yang dilakukan di Cohen Medical Centre di New York, Amerika Serikat, menyebutkan beberapa permainan dalam smartphone yang tidak mendidik dapat memperlambat anak dalam berbicara. Terutama permainan yang mengandalkan layar sentuh seperti Angry Bird dan Fruit Ninja. Tentu saja hal ini berdampak buruk jika para ibu yang suka meminjamkan smartphone pada buah hatinya.
Hasil ini diungkap oleh para peneliti setelah mengamati perilaku orang tua yang memberikan permainan-permainan tersebut pada buah hati mereka. Anak-anak berusia 0-3 tahun yang memainkan permainan tersebut memiliki nilai kemampuan berbicara lebih rendah dibandingkan anak yang lain.
Padahal 60 persen orang tua menganggap teknologi di smartphone dapat meningkatkan kecerdasan buah hati mereka. Padahal menurut penelitian, tidak ada bukti hasil yang signifikan mengenai kecerdasan antara anak yang menggunakan smartphone atau yang tidak. Bahkan untuk tingkat kecerdasan verbal, anak-anak yang tidak diberikan smartphone justru lebih tinggi nilainya.
Terlebih dalam survey yang dilakukan di Amerika Serikat, 63 dari 65 keluarga (97 persen) orang tua membekali anaknya dengan gadget smartphone dengan teknologi touch screen. Usia rata-rata anak mereka adalah 11 bulan dan menggunakan smartphone selama 36 menit per harinya. Angka ini terlampau tinggi dan resiko keterlambatan bicara pada anak jadi tinggi.
Banyak orang tua memiliki pemahaman yang salah mengenai penggunaan gadget pada anak-anak. Padahal cara terbaik untuk mencerdaskan anak dan memperlancar perkembangannya adalah dengan banyaknya komunikasi dengan orang tuanya.
"Teknologi tidak bisa menggantikan interaksi orang tua dengan anaknya," kata salah seorang pakar anak Cohen Medical Centre, Dr. Ruth Milanaik. "Hanya dengan komunikasi anak dan orang tua dapat saling belajar."
(wk/)