Penutupan Dolly ini sempat mendapat perlawanan dari warga yang menolak penutupan lokalisasi dengan cara membakar ban hingga demo dari warga yang kontra.
- Tim WowKeren
- Rabu, 18 Juni 2014 - 22:54 WIB
WowKeren - Kawasan lokalisasi Dolly di Surabaya akhirnya resmi ditutup, Rabu, 18 Juni malam. Deklarasi penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu digelar di gedung Islamic Center Surabaya dan dihadiri Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Ketua DPRD Surabaya Macmud, Kapolda Jatim, Garnisun, Kapolres Surabaya, anggota DPRD, kepala SKPD Pemkot Surabaya, MUI, LSM, PSK, mucikari dan warga sekitar Dolly.
Dalam acara tersebut dilakukan deklarasi oleh perwakilan warga yang Isinya menjadi Kelurahan Putat Jaya jadi bebas prostitusi, siap beralih profesi serta meminta aparat menindak tegas terjadinya prostitusi. Setelah itu dilanjutkan dengan penandatanganan oleh 107 perwakilan warga.
Salim memberikan gambaran kehidupan di Tiongkok dimana mayoritas warganya tidak beragama namun tidak ada prostitusi di wilayah tersebut. Berbeda dengan Indonesia yang agamis namun bertebar lokalisasi.
"Yang hadir di sini mereka yang mengukir sejarah. Saya dengar Dolly ini umurnya 100 tahun. Kalau manusia sudah lanjut usia. Jadi wajar kalau sudah harus ditutup," kata Salim dalam pidatonya.
Di acara ini, secara simbolik warga terdampak lokalisasi dan eks-PSK diberikan bantuan dari Kemensos sebesar Rp 7 miliar, serta Gubernur Jatim sebesar Rp 1, 5 miliar. "Ini program kemanusiaan. Maka kami acc apa yang diminta bu Walikota dalam soal Dolly. Pemerintah tak akan membiarkan warga keleleran. Memang dulu penghasilan banyak, namun ditutup memang berkurang," kata Soekarwo.
Untuk eks-PSK akan dikembalikan ke daerah asal masing-masing. Sempat terjadi insiden pembakaran ban, memblokade jalan, hingga demo dari warga yang menolak penutupan lokalisasi.
(wk/)