Manfred Stoifl mengaku tak takut sama sekali ketika harus kembali ke lokasi kejadian dan menikmati secangkir kopi di sana.
- Tim WowKeren
- Senin, 15 Februari 2016 - 14:41 WIB
WowKeren - Siang itu, 14 Januari lalu Manfred Stoifl sedang duduk di sebuah kedai kopi asal Amerika di dekat pusat perbelanjaan Sarinah, kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Saat sedang asyik dengan laptopnya, tiba-tiba saja sebuah bom meledak dan mengenainya.
Manfred mengalami cedera yang cukup serius, namun masih bisa tertolong. Sedangkan rekannya, Taher Amir Oali, warga asal Kanada-Aljazair meninggal dunia karena tertembak saat hendak memasuki kafe.
"Ada cahaya putih yang sangat terang, panas dan suara ledakan. Dan tiba-tiba saja aku sudah terlempar ke kursi belakang," cerita Manfred kepada ABC. "Aku seperti tak sadar beberapa saat. Ketika aku tersadar lagi, kukira laptopku yang tadinya meledak."
Meski telah menjadi korban dari bom Sarinah yang didalangi oleh ISIS dan mengincar warga asing, Manfred tak takut sedikit pun. Pria berkepala plontos ini justru tanpa rasa khawatir kembali ke kedai kopi tempat kejadian dan menikmati secangkir kopi di sana.
"Aku tak takut sama sekali. Aku marah mereka telah mengambil sebulan kehidupanku yang sempurna," lanjutnya. "Mereka mencederaiku, lihatlah sendiri bagaimana lukanya. Mereka merusak pendengaranku, namun untungnya aku masih hidup."
Sementara itu, Manfred harus menjalani operasi di Jakarta dan Singapura karena luka yang dideritanya. Namun karena tragedi itu pula, dirinya berhasil membuat beberapa inovasi untuk bantuan alat dengar yang memang menjadi ladang usahanya di Jakarta.
(wk/)