Begini tanggapan orangtua IAH yang juga seorang pengacara menilai kasus ini.
- Tim WowKeren
- Rabu, 31 Agustus 2016 - 15:41 WIB
WowKeren - Peristiwa percobaan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan sempat menghebohkan publik. Pasalnya, pelaku IAH diketahui sebagai seorang pemuda 18 tahun baru saja lulus dari SMA.
Orangtua IAH mengaku sedih saat datang memenuhi panggilan penyidik di Mapolresta Medan, Selasa (30/8). "Badannya sudah kayak tape (tapai), lembek. Kasihan kali, tak tega saya menengoknya. Sebagai orangtua, apalah artinya saya ini ayahnya," ungkap Makmur Hasugian dilansir dari Kompas.
Sang ayah yang bekerja sebagai pengacara ini juga akan bertindak sebagai kuasa hukum anaknya yang masih dibawah umur. "Saya yang menjadi kuasa hukumnya," tukan Makmur. "Saya sudah menganjurkan anak saya untuk memberikan keterangan yang jelas dan benar, supaya orang yang menyuruhnya bisa ditangkap."
Terkait dengan kejadian yang menimpa anak ketiganya ini, Makmur menghimbau agar pengawasan penggunaan internet bisa diperketat. "IAH itu hobinya (main) internet. Bagaimana supaya internet itu bisa berdampak positif, bisa kita pantau kalau ada niat-niat jahat di dalamnya," jelas Makmur.
Makmur menilai anak bungsunya yang pendiam itu bukanlah otak kejahatan dari teroris. Melainkan seorang korban yang dipengaruhi oleh orang-orang jahat yang mengajarinya. Pengacara senior ini juga mengecam para pelaku yang mencuci otak serta mengiming-iming anaknya untuk berbuat jahat.
(wk/)