Simak detil penjelasan mengapa Hillary bisa kalah dari Trump meski mendapat jumlah voting lebih besar di bawah ini.
- Tim WowKeren
- Selasa, 22 November 2016 - 15:18 WIB
WowKeren - Momen terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden baru Amerika Serikat mengingatkan warganya pada sejarah negara mereka. Pasalnya, untuk kelima kalinya dalam sejarah, Amerika kembali memilih presiden yang sebenarnya kalah dalam perolehan suara pemilihan umum secara keseluruhan.
Dalam penghitungan suara populer atau popular votes terakhir, presiden terpilih, Donald Trump, terpantau meraup suara lebih sedikit ketimbang rivalnya, Hillary Clinton. Dilansir CNN dari Cook Political, penghitungan suara terakhir menunjukkan bahwa secara keseluruhan, Hillary berhasil meraup dukungan dari 63.757.077 pemilih, sementara Trump jauh tertinggal dengan angka 62.004.178.
Bagaimanapun juga, Trump tetap dinyatakan memenangkan pemilu yang digelar pada 8 November lalu. Pasalnya, Trump berhasil meraih electoral votes yang lebih banyak ketimbang Hillary.
Warga AS memang memilih capres unggulan mereka dalam pemilu. Namun sejatinya, hasil pemilu akan menentukan jumlah pemilih yang akan maju lagi ke tahap terakhir, yaitu Electoral College. Penjelasannya, AS memiliki 50 negara bagian, masing-masing akan menyumbangkan jumlah electoral votes yang berbeda, sesuai dengan jumlah pemilih di daerah tersebut.
Electoral College sendiri terdiri dari 538 electoral votes yang diperebutkan. Calon presiden yang mendapatkan mayoritas 270 electoral votes dalam pemilu akan keluar sebagai pemenang. Dengan demikian, peraih suara terbanyak secara keseluruhan tetap akan kalah jika ia tak mendapatkan electoral votes lebih banyak ketimbang rivalnya, layaknya yang terjadi pada Hillary.
(wk/)