Cukup miris, simak penuturan salah seorang guru honorer dalam aksi demo tersebut.
- Tim WowKeren
- Jumat, 25 November 2016 - 12:56 WIB
WowKeren - Bertepatan dengan Hari Guru yang jatuh pada Jumat, 25 November, puluhan guru honorer menggelar unjuk rasa di depan kantor PGRI Lamongan, Jl. KH Ahmad Dahlan. Dalam aksi unjuk rasanya itu, para guru honorer tersebut menuntut agar pemerintah mengangkat tenaga honorer menjadi pegawai tetap, serta meminta agar para guru mendapat upah yang layak.
Puluhan guru honorer yang berunjuk rasa itu melakukan orasi secara bergantian di depan Gedung PGRI dengan membentangkan sejumlah poster tuntutan. Ketua Gerakan Honorer Kategori 2 Indonesia Bersatu (GHK2-IB) Lamongan, Ahmad Wasiran mengatakan, aksi ini terpaksa mereka lakukan karena banyak dari para guru honorer di Lamongan yang terpaksa mencari pekerjaan tambahan karena gaji yang mereka peroleh sebagai pengajar tidak mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari.
Cukup miris, dari penuturan Wasiran diketahui tenaga honorer K2 yang ada di Lamongan ada yang hanya digaji Rp 100 ribu dan paling besar Rp 300 ribu. "Sangat tidak cukup kalau melihat kebutuhan," kata Wasiran.
Menurut Wasiran, dari total 838 orang guru honorer K2 di Lamongan sudah ada yang mengabdi selama 32 tahun. Pada tahun 2015, mereka didampingi Bupati Lamongan pernah mengajukan ke Presiden agar bisa dilantik menjadi PNS. Namun, hingga saat ini ratusan guru honorer K2 Lamongan belum ada yang diangkat menjadi CPNS.
"Kami mengharapkan pemerintah memenuhi janjinya yang sudah dibuat oleh Menpan RB dengan Komisi II DPR RI, tanggal 15 September 2015, bahwa seluruh honorer K2, sejumlah 439.956 akan diangkat menjadi CPNS secara bertahap mulai 2016 sampai paling lambat 2019," tegas Wasiran. "Kalau tidak dipenuhi, kami akan turun jalan dengan massa lebih besar seperti di Jakarta."
(wk/)