Simak penjelasan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di bawah ini mengenai penyebaran AIDS di Indonesia.
- Tim WowKeren
- Kamis, 01 Desember 2016 - 13:54 WIB
WowKeren - Tanggal 1 Desember, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengunjungi Surabaya untuk memperingati Hari AIDS Sedunia. Kenapa Surabaya dipilih sebagai kota yang disinggahinya?
Nila menjelaskan, Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur dipilih karena provinsi tersebut memang menjadi salah satu provinsi dengan penularan HIV tertinggi di Indonesia. "Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan penemuan kasus HIV yang tinggi bersama dengan provinsi DKI Jakarta, Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah," kata Nila.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes mencanangkan gerakan ajakan tes HIV untuk masyarakat umum dalam bentuk Kegiatan Kampanye Peduli HIV/AIDS dengan slogan TOP yang merupakan kependekan dari "temukan, obati dan pertahankan". "Temukan" yaitu segera temukan orang dengan HIV/AIDS (ODHA), "obati" ialah segera obati ODHA dengan antiretroviral (ARV) dan "pertahankan" maksudnya pertahankan kualitas hidup ODHA.
Nila menjelaskan, sejak 2005 hingga Desember 2015 telah dilaporkan 191.073 orang terinfeksi HIV di Indonesia. Faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seks yang berisiko pada heteroseksual sebanyak 66 persen, penggunaan jarum suntik tidak steril 11 persen, seks sesama jenis 3 persen, serta penularan dari ibu ke anak 3 persen.
Sementara menurut data Kemenkes, jumlah kasus AIDS di Indonesia tertinggi adalah pada ibu rumah tangga (10.626), tenaga nonprofesional/karyawan (9.603), wiraswasta (9.439), petani/peternak/nelayan (3.674), buruh kasar (3.191), penjaja seks (2.578), PNS (1.819) dan anak sekolah/ mahasiswa (1.764). "Data-data yang didapat tersebut di atas mendasari dalam strategi pencegahan dan pengendalian HIV AIDS yaitu dengan pendekatan yang berfokus dalam keluarga dan masyarakat," jelas Nila.
"Kami berharap dan menyampaikan ajakan pada semua masyarakat untuk tidak ragu-ragu maupun takut dalam melakukan Tes HIV, tidak melakukan diskriminasi maupun stigma pada orang yang melakukan tes HIV dan tidak menstigma orang yang terinfeksi HIV dikarenakan semua orang berpeluang untuk terinfeksi HIV," pungkasnya.
(wk/)