Sebuah tim ilmuwan merencanakan membuat tembok di langit untuk menghangatkan Bumi.
- Tim WowKeren
- Rabu, 29 Maret 2017 - 11:15 WIB
WowKeren - Sebuah tim ilmuwan Harvard University yang dipimpin oleh Profesor David Keith, berencana melakukan uji coba rencana membuat "tembok di langit". Ide yang bertujuan memantulkan sinar Matahari ini kemungkinan akan mendapat dukungan dari pemerintah Donald Trump.
Pasalnya, manipulasi ilmiah itu memungkinkan Trump terus menjalankan pembakaran bahan bakar fosil. Geoengineering tersebut dilakukan dengan menyemprotkan partikel halus air dan sejumlah material seperti sulfur dioksida, dari balon udara. Ilmuwan berpikir melakukan tindakan itu dalam skala besar dapat mendinginkan suhu Bumi yang saat ini tengah mengalami pemanasan.
Dikutip dari Independent, penyemprotan partikel tersebut diyakini memiliki efek yang sama seperti puing-puing letusan gunung berapi yang menyelimuti atmosfer Bumi. Tindakan ini sama seperti memantulkan sinar Matahari sehingga memgurangi intensitas sinar yang masuk ke Bumi.
Namun ide tersebut dikritik oleh Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati. Pada Desember tahun lalu, mereka menyetujui agar geoenineering tidak dilakukan terlebih dahulu. Keputusan itu dibuat karena tindakan tersebut bisa saja memiliki konsekuensi yang tak diinginkan.
Setelah tim dari Harvard mengungkap rencananya tersebut, Direktur organisasi pengawas teknologi ETC Group Amerika Latin, Silvia Riberio, khawatir akan tindakan yang akan dilakukan Trump. "Sangat jelas sebagian pemerintahan Trump tak segan membuka pintu terhadap skema nekat seperti milik David Keith, dan kemungkinan diizinkan untuk melakukan uji coba di alam terbuka," kata Riberio. "Mengkhawatirkan, geoengineering mungkin muncul sebagai pendekatan yang disukai pemerintah untuk mengatasi pemanasan global."
"Dalam pandangan mereka, membangun tembok besar di langit yang terbuat dari sulfat menjadi alasan sempurna untuk mengizinkan ekstraksi bahan bakar fosil yang tak terkontrol. Kita perlu fokus untuk memotong emisi radikal, yang tak berbahaya dan adil," ujar Riberio. Sementara itu dalam sebuah video promosi tentang percobaan terencana mereka, Daniel Schrag dari Harvard University mengungkapkan pandangannya soal geoengineering.
"Salah satu masalah iklim yang terkadang orang-orang tak menghargainya adalah skala waktu--fakta bahwa sebagian besar karbon yang ada di atmosfer akan tetap ada ribuan bahkan puluh ribu tahun dari sekarang," ujar Schrag.
(wk/)