Marak Rekrutmen Teroris di Internet, BNPT Minta Para Orangtua Waspada
Nasional

Begini penjelasan Ketua BNPT Komjen Suhardi Alius mengenai rekrutmen teroris di internet.

WowKeren - Kemajuan teknologi sudah dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk memasukkan beragam doktrin. Itulah yang membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta para orang tua waspada terhadap penggunaan teknologi dalam jaringan (daring) yang melibatkan anak-anak. Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius pun menyampaikan, bahwa media sosial menjadi sasaran empuk jaringan teroris untuk melakukan perekrutan.

"Mereka melalui media sosial dan itulah yang berjalan dan itu yang paling aman menurut mereka (jaringan teroris)," ujar Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius, dalam acara Harlah Ke-71 Muslimat NU di GOR Jayabaya, Kediri, Jawa Timur, Minggu (2/4). Suhardi mengatakan bahwa proses baiat tak lagi hanya dilakukan secara bertatap muka dan sudah merambah dunia online. Disebutkan Suhardi bahwa sudah ada korban baiat lewat daring, yakni pelaku aksi percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Kota Medan, Sumatera Utara, Agustus 2016.

Dijelaskan bahwa komunikasi sang pelaku dengan jaringan teroris dilakukan melalui dunia maya. Dari situ ia dicuci otak sehingga melakukan serangan teror. Banyaknya media sosial yang bisa dimanfaatkan di Indonesia dijelaskan Suhardi memicu sulitnya Indonesia memberantas praktik doktrin lewat teknologi daring. Hal itu berseberangan dengan Tiongkok yang memblokir beragam situs, seperti Facebook, Google, dan sejumlah media sosial lain.


Untuk itu, Suhardi aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebagai upaya meminimalkan beragam doktrin buruk. Salah satunya meminta warga NU untuk ikut mengawasi keluarganya. "Saya minta ibu-ibu Muslimat NU, tolong awasi keluarga kita karena bisa terjadi. Karena rutin lewat media sosial, lama-lama orang yang mungkin tidak terpapar, akan terpikirkan dengan dalil-dalil seperti itu," kata Suhardi seperti dilansir dari Antara.

Suhardi memaparkan bahwa BNPT akan berupaya membuat langkah kontra-propaganda terkait soal ini. "Ketika ada muatan negatif ayat-ayat yang menurut mereka benar, kita konter. Jika tidak, akan dianggap benar masyarakat sehingga kami buatkan kontranarasi bagian sebenarnya dalam konteks ayat itu. Kita buatkan kelompok ahli dari pakar-pakar," tegasnya.

*Update Berita 23 Juni 2023 16:09 WIB: Sesuai rekomendasi Dewan Pers, berita ini telah dikoreksi pada 23 Juni 2023 dengan mempertimbangkan kewajiban perlindungan terhadap anak.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait