Inilah yang menjadi penyebab pencarian korban tanah longsor Ponorogo yang kembali terjadi Minggu, 9 April 2017 dihentikan.
- Tim WowKeren
- Senin, 10 April 2017 - 08:57 WIB
WowKeren - Sudah sepekan longsor di Ponorogo Jawa Timur terjadi. Regu pencari dan penyelamat gabungan sudah berupaya menyisir lokasi dan mencari korban. Sebab kondisi material tidak mungkin untuk dilakukan pengerukan karena bisa membahayakan tim sar maupun perkampungan, Pemerintah Kabupaten Ponorogo akhirnya memilih untuk menghentikan seluruh proses pencarian korban yang tertimbun material longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.
"Evakuasi saya hentikan, karena akan memperparah kejenuhan air yang ada di dalam tanah itu. Jadi mulai saat ini, kami akan fokus untuk mencarikan jalan untuk lumpur, kalau tidak dikasih jalan maka akan menerjang ke mana-mana," kata Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni. Menurutnya, penghentian proses pencarian tersebut telah sesuai dengan komitmen pemerintah daerah bersama seluruh instansi maupun keluarga yang menjadi korban tanah longsor. "Kan Kemarin janji saya kepada masyarakat, hari ini diteruskan dan dievaluasi, keputusan ini merupakan bagian dari evaluasi tersebut," katanya.
Longsor susulan yang terjadi Minggu, 9 April 2017, dijelaskan Ipong menjadi salah satu dasar diberhentikannya proses pencarian korban. Adanya longsor susulan yang terjadi kemarin siang pukul 11.45 WIB membuat tim SAR dan operator alat berat yang sedang bertugas panik. Satu alat berat ikut terseret arus longsor dan tertimbun, dua rumah yang menjadi posko dapur umum roboh, lima sepeda motor tertimpa longsor, juga dua unit mobil milik relawan dan unit K-9 Polda Jatim ikut tertimpa longsor. Beruntung para petugas di sana berhasil menyelamatkan diri.
Rencananya, pemerintah mulai hari ini akan melakukan pemetaan untuk menentukan langkah normalisasi sungai dan penataan timbunan material longsor. Sehingga sungai bisa mengalir dengan baik dan tidak membahayakan perkampungan yang ada di bawahnya. Penanganan bencana tanah longsor di Ponorogo ini terbilang sulit karena jumlah timbunan material longsor cukup banyak. Kondisi tersebut perlu diatasi menggunakan banyak alat berat. "Di awal kami menggunakan air untuk menggelontorkan material longsor, namun cara tersebut akhir-akhir ini justru membuat tanah menjadi lembek dan mudah longsor, seperti yang terjadi pada hari ini," paparnya. Akibat longsor susulan ini 28 orang tertimbun. Korban yang dinyatakan hilang berjumlah 24 orang, sedangkan yang sudah ditemukan berjumlah 4 orang.
(wk/)