Begini pembelaan pihak kepolisian atas kematian enam terduga teroris di Tuban, pekan lalu.
- Tim WowKeren
- Senin, 10 April 2017 - 16:48 WIB
WowKeren - Tewasnya enam terduga teroris di Tuban, Jawa Timur dalam baku tembak dengan polisi menjadi sorotan. Sebagian masyarakat menyayangkan kejadian itu dan membuat aparat menuai beragam kritikan.
Senin (10/4), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT), Komisaris Jenderal Suhardi Alius mendatangi Istana Negara. Ia mengaku dipanggil Presiden Joko Widodo untuk melaporkan kejadian tersebut.
"Saya dipanggil Bapak Presiden untuk melaporkan perkembangan masalah penanggulangan terorisme dan radikalisme di Indonesia, dan juga terkait masalah aktual kejadian kemarin di Jawa Timur," ujar Suhardi.
Dalam laporannya, Ali juga menjelaskan berbagai situasi aktual yang dihadapi aparat dalam memberantas terorisme. "Supaya balance, berimbang. Jadi penanganan masalah terorisme tidak hanya dalam aspek penindakan saja tapi kita mengedepankan masalah-masalah di hulu yang menjadi variabel daripada terjadinya terorisme itu sendiri, termasuk juga masalah pembinaan mantan mantan napi teroris," imbuhnya.
Lebih lanjut, Ali juga sempat membela kinerja pihak kepolisian meski baku tembak yang mengakibatkan kematian pelaku tak bisa dihindarkan. Menurutnya, aparat yang bertugas menghadapi penjahat dan melakukan penyergapan juga terancam keselamatannya.
"Kalau mereka bersenjata, ada enggak opsi untuk menyerah? Kan susah juga. Anggota juga dalam posisi terancam jiwanya. Kalau enggak menembak, anggota yang mati," terang Suhardi. "Mari kita evaluasi secara obyektiflah. Kemarin bersenjata semua yang saya dengar laporannya. Posisi petugas juga dalam posisi sulit. Mari kita obyektif dalam melihat itu semuanya."
Lebih lanjut, Ali juga menjelaskan jika polisi tidak bisa sembarangan melepaskan tembakan ke arah pelaku. "Itu nanti ada prosedurnya. Untuk mengeluarkan pelurunya saja harus ada prosedur kok, apalagi nembak," pungkas Suhardi.
(wk/)