Adhyaksa Dault menepis tudingan anti Pancasila dan juga kondep khilafah yang dimaksudnya.
- Tim WowKeren
- Selasa, 02 Mei 2017 - 14:53 WIB
WowKeren - Adhyaksa Dault menuai kontroversi setelah beredar videonya tengah berada dalam sebuah acara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Apalagi belakangan tengah ramai dibahas tentang pembubaran HTI lantaran dianggap tidak sesuai dengan ideologi Pancasila.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka angkat bicara, Dalam pernyataannya baru-baru ini ia mengaku difitnah lantaran video tersebut telah diambil sejak 2013 lalu.
"Seperti banyak acara organisasi lain yang saya hadiri, saya dan beberapa tokoh hadir di acara HTI itu sebagai undangan. Saya bukan simpatisan HTI, apalagi anggota HTI," ujar Adhyaksa. "Karena video itu, saya difitnah anti Pancasila dan anti NKRI. Bagaimana mungkin saya dituduh anti Pancasila?"
Mantan Menpora ini juga menepis tudingan jika dirinya anti Pancasila. Adhyaksa menegaskan jika dirinya telah mengikuti pengkaderan sejak tahap paling bawah mulai P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), Tarpadnas (Penataran Kewaspadaan Nasional), dan Suspadnas (Kursus Kewaspadaan Nasional), sehingga tuduhan tersebut tidak berdasar.
"Sampai detik ini, di manapun dan setiap ke daerah, saya selalu menyampaikan pada generasi muda agar mempertahankan dan merawat Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 2016 kemarin, saya menggagas lomba foto #PramukaPancasila agar generasi muda menghayati dan mengamalkan Pancasila," tegasnya.
Sementara itu, Adhyaksa juga menjelaskan jika yang dimaksudnya khilafah dalam video tersebut tidak sama dengan versi HTI. "Mengenai khilafah islamiyah itu memang ada hadistnya, tapi khilafah yang saya maksud adalah khilafah islamiyah yang rosyidah, bukan khilafah yang berarti meniadakan negara, bukan khilafah versi Hizbut Tahrir, apalagi ISIS dan sebagainya. Terkait video itu, harus dilihat juga tempat dan waktu saya berbicara, itu video empat tahun lalu. Sekarang tahun 2017, artinya video tersebut tidak relevan," jelas Adhyaksa.
Lebih lanjut, Adhyaksa menegaskan jika khilafah yang dimaksudnya tidak meniadakan negara. "Jadi Pancasila, UUD 45, NKRI Bhinneka Tunggal Ika harus kita pertahankan dan kita rawat untuk generasi selanjutnya. Pancasila sudah menjadi kesepakatan pendiri Republik Indonesia. NKRI harga mati," pungkasnya.
(wk/)