Puisi Jaka Jadi Viral dan Tuai Kontroversi, Panglima TNI Beri Penjelasan
Nasional

Simak seperti apa penggalan puisi Jaka, 'Tapi Bukan Kami Punya' yang dibacakan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

WowKeren - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menuai kontroversi usai mebacakan puisi berjudul "Tapi Bukan Kami Punya" karya Denny JA di Pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Balikpapan, Senin (22/5). Banyak pihak yang berpendapat jika puisi itu mengkritik pemerintahan Jokowi-JK.

Meski begitu, Gatot sendiri mengatakan jika dirinya tak ada maksud mengkritik pemerintahan. Menurutnya puisi yang ia bacakan justru menunjukkan ancaman nyata, yaitu tentang migrasi penduduk ke sejumlah negara.

"Saya ingatkan bahwa sekarang ini yang paling berbahaya adalah migrasi. Migrasi itu bukan pengungsian," ujar Gatot baru-baru ini. "Sekarang sudah meningkat kompetisi antar manusia. Manusia tak mengenal batas dan mencari tempat yang lebih menjanjikan, lebih baik hidupnya, teori gaji namanya."

Gatot menjelaskan jika pada 2020, banyak penduduk dunia akan mengungsi. Salah satunya dikarenakan pemanasan global. Menurutnya kini bahkan sudah banyak pemimpin dunia yang mulai mengambil langkah.


"Tahun 2020, 60 juta orang mengungsi dari sub-sahara (Afrika). Orang enggak bisa tinggal di sana lagi, ia akan mengungsi," imbuhnya. "Presiden Donald Trump sudah menutup akses dari Afrika Selatan ke Utara, Meksiko . Di Eropa PM Inggris juga telah menutup pengungsian, Australia juga."

Lebih lanjut, Jenderal Gatot sekali lagi menegaskan jika puisi "Jaka" yang dibacakannya justru mengingatkan tentang migrasi. "Jadi puisi 'Jaka' itu kalau tidak waspada anakmu juga bisa seperti Jaka. Apabila kita tidak waspada bisa seperti Jaka tadi. Habis terpinggirkan, bukan orang Indonesia lagi, kita terpinggirkan," tegasnya.

Berikut ini potongan puisi "Tapi Bukan Kami Punya" yang dibacakan oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo:

"Sungguh Jaka tak mengerti, mengapa ia dipanggil ke sini. Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagah. Dari mata burung Garuda, ia melihat dirinya. Dari dada burung Garuda, ia melihat desa. Dari kaki burung Garuda, ia melihat kota Dari kepala burung Garuda, ia melihat Indonesia."

"Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya. Sangat luas sawahnya, tapi bukan kami punya. Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling. Desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya. Lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata. Ramai pasarnya, tapi bukan kami punya. Lihatlah aneka barang, dijual belikan orang. Oh makmurnya, tapi bukan kami punya."

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait