Berikut beberapa hal yang dibahas oleh Presiden Joko Widodo dan GNPF MUI.
- Tim WowKeren
- Senin, 26 Juni 2017 - 08:31 WIB
WowKeren - Minggu (25/6), bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriah, Presiden Joko Widodo menggelar open house dan halal bihalal. Dalam kesempatan itu, Jokowi rupanya sudah sempat bertemu dengan GNPF-MUI.
GMPF-MUI sendiri diwakili oleh Dewan Pengawas Yusuf Muhammad Martak, Ketua Bachtiar Nasir, Wakil Ketua Zaitun Rusmin, juru bicara Kapitra Ampera serta pengurus lainnya, yakni Habib Muchsin serta Muhammad Lutfi Hakim. Sedangkan Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin.
Dalam pertemuan itu, mereka sempat membahas berbagai hal termasuk aksi-aksi unjuk rasa terkait kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan juga kriminalisasi ulama. Mensesneg Pratikno mengatakan jika GNPF-MUI mengatakan jika mereka pada dasarnya mendukung kebijakan pemerintah.
"Intinya, mereka (GNPF-MUI) mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah. Mereka mendukung sepenuhnya pembangunan bangsa ini dan mereka mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Pak Presiden," ujar Pratikno. "Lebih cair suasana pertemuannya. Suasana Lebaran beda lah dengan suasana demo."
Wakil Ketua GNPF-MUI Zaitun Rasmin mengatakan pertemuan ini juga menjadi langkah awal rekonsiliasi dari kedua belah pihak. "Nanti bagaimana kondisi yang tercipta entah oleh siapa itu bisa diselesaikan dan nanti win-win-nya begini, tidak ada yang dipermalukan. Tapi juga hukum jelas terang, tidak ada diskriminasi. Kira-kira begitu," ujarnya.
Sedangkan pengurus GNPF-MUI, Muhammad Lutfi Hakim menambahkan jika melalui pertemuan ini semuanya bisa lebih jelas. "Kami tahu apa yang ada dalam pikiran Bapak Presiden lalu beliau juga menjadi tahu apa sebetulnya aspirasi GNPF-MUI. Kami sepakat untuk berkomunikasi lebih intens lagi," imbuhnya.
Seperti diketahui GNPF-MUI dikenal sebagai organisasi Islam yang kerap kali mengkritik pemerintahan. Mereka juga beberapa kali menggelar demo sebagai aksi protes atas berbagai isu, mulai dari penistaan agama hingga kriminalisasi ulama.
(wk/)