Salah seorang netter bahkan menyebut jika aksi yang dilakukan oleh Ayu itu termasuk salah satu gangguan mental, kok bisa?
- Tim WowKeren
- Selasa, 04 Juli 2017 - 14:05 WIB
WowKeren - Saat adik Ayu Ting Ting, Syifa Nuraini, berulang tahun beberapa waktu lalu, pihak keluarga sempat mengadakan acara buka puasa bersama. Acara tersebut dibuka dengan pengajian dan pembacaan doa.
Dalam acara tersebut, keluarga Ayu kompak mengenakan atasan berwarna putih. Namun siapa sangka, kelakuan Ayu saat pengajian berlangsung justru menjadi sorotan. Alih-alih ikut berdoa, Ayu malah asyik menggigiti kuku tangannya sendiri. Tak ayal, ia pun dinilai jorok.
Beragam komentar pun bermunculan. Netter lagi-lagi memberikan cibiran dan komentar pedas kepada mantan kekasih Shaheer Sheikh itu. Salah seorang netter bahkan menyebut jika aksi yang dilakukan oleh Ayu itu termasuk salah satu gangguan mental.
"Setau saya kebiasaan2 sprti itu dlm dunia psikologis udh masuk salah satu penyakit gangguan mental. CMIIW," tulis akun @good**ou. "Wkwkwkwk nggilani kliatan banget kalo jorok tu orang. Masa orang kaya gak punya gunting kuku," cibir akun @oliv**17. "
"Jorok, kuku abis boker tu sebelah kiri, isss pantesan mulut sma otak nya mirip kek e*k bul wakakaka," balas akun @erik***zky. "Ini manusia kebiasaannya jorok bgt kalo g nambang upil,garuk selangk**gan,nambang t*i kuping skrng bedoa aja gigit2 kuku emg gaada attitudenya ckck," tambah akun @playd**pie.
Sementara itu, hobi menggigit kuku berdasarkan studi dari University of Montreal menjelaskan bahwa kebiasaan itu menandakan tipe orang yang cenderung pembosan dan tidak sabaran. Studi ini diterbitkan di Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry menjelaskan kebiasaan-kebiasaan impulsif ini mengacu pada sifat perfeksionis yang cenderung lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.
"Orang-orang dengan kebiasaan repetitif ini kemungkinan merupakan perfeksionis, yang artinya mereka susah bersantai dan melakukan pekerjaan di kecepatan normal," ujar Dr. Kieron O'Connor, dosen psikiatris di University of Montreal, dilansir Huffingtonpost pada Selasa (4/7). "Orang-orang tersebut cenderung mudah merasa frustasi, resah dan kecewa saat mereka gagal mencapai target. Dibanding banyak orang, mereka juga lebih mudah bosan."
(wk/)